Komandan Batalion Armed Tersangka

PALEMBANG– Pomdam II/Sriwijaya kemarin menetapkan Komandan Batalion Armed 15/76 Martapura, Mayor IA sebagai salah satu dari enam nama tersangka kasus pembakaran Mapolres OKU.

Selain Mayor IA, lima anggota TNI AD yang ditetapkan sebagai tersangka dalam insiden Kamis (7/3) itu adalah Serma HMF, Praka DM, Sertu IR, Koptu EY, dan Pratu TM. Enam tersangka tersebut dikenai dua hingga empat pasal berbeda. Selanjutnya mereka akan menjalani persidangan paling lambat akhir Maret mendatang.

Penetapan tersangka disampaikan langsung Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Nugroho Widyotomo yang didampingi Komandan Pomdam Kolonel CPM Ujang Martenis dan Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) Kolonel Arm JauhariAgus kemarin. “Dari 30 anggota TNI yang diperiksa, ada enam orang yang ditetapkan menjadi tersangka. Untuk dua tersangka berkasnya langsung diserahkan ke Odmil, dan empat orang lagi perlu dilengkapi berkasnya,” papar Pangdam.

Pangdam mengatakan, mereka dikenai pasal berbeda. Mayor IA misalnya dijerat dua pasal sekaligus (Pasal 170 KUHP dan Pasal 126 KUHPM). Setelah penetapan enam nama tersangka, Pangdam berjanji segera memproses persidangan dengan profesional.

Dia menjelaskan, kemungkinan bertambahnya jumlah tersangka sangat terbuka. Itu semua bergantung pengembangan penyidikan yang terus dilakukan. “Untuk level Pamen, sidangnya tidak di sini, tapi di Medan. Untuk lima tersangka lainnya akan diproses di Odmil biar cepat,” imbuh Pangdam.

Dia juga menegaskan, kasus ini bukan konflik TNI AD-Polri. Saat kejadian banyak anggota TNI AD dari Kodim dan Puslapur membantu evakuasi personel Polres OKU maupun menyelamatkan materi di lokasi kejadian. “Kasus penembakan anggota Yon Armed beberapa waktu lalu itu bukan karena pelanggaran lalu lintas, melainkan karena saling ejek yang menyebabkan emosi,” ungkapnya.

Pangdam memastikan tidak ada senjata yang digunakan anggota TNI AD dalam peristiwa tersebut. Karena itu, dia menantang, jika ada yang bisa menunjukkan bukti penggunaan senjata, pihaknya langsung memproses sesuai aturan. “Kita justru mengamankan 169 pucuk senjata di polres terdiri atas 108 senjata pendek (pistol) dan 61 senjata panjang,” katanya.

Pada saat yang bersamaan, Kapendam mengatakan, Komandan Batalion Armed 15/76 Martapura bisa dikenakan sanksi khusus. “Sebagai pimpinan harusnya dia bisa mengendalikan anggotanya untuk tidak bertindak anarkistis,” ucap Kapendam.

Menanggapi pernyataan Pangdam, Polda Sumsel menyerahkan sepenuhnya penyidikan kepada Pomdam II/Sriwijaya. “Polri menyerahkan sepenuhnya penangan kasus ke tim investigasi,” ungkap Kabid Humas Polda Sumsel AKBP R Djarod Padakova kemarin.Polda, kata dia, terus memonitor dan berkoordinasi dengan Pomdam II/Sriwijaya terkait perkembangan kasus tersebut.

Mengenai proses hukum Brigadir Bintara Wijaya yang ditangani penyidik Subdit 3 Ditreskrimum Polda Sumsel, kata Djarod, sudah memasuki tahap kedua atau berkas sudah dikirim ke jaksa penuntut umum (JPU) Kejati Sumsel.

Sementara itu, Polda Sumsel berencana memindahkan lokasi Mapolres Ogan Komering Uku (OKU) pascapenyerangan disertai pembakaran pekan lalu. Eks Mapolres OKU akan dijadikan Kantor Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres OKU.

“Nah, nanti Mapolres OKU yang akan dibangun baru lokasinya belum ditentukan,” ungkap Karo Rena Polda Sumsel Kombes Pol Yoyo Sri Nurcahyo kepada KORAN SINDO di Mapolda Sumsel kemarin. komalasari/ ade satia pratama

Senin 11 November 2013

Related News