ANGGOTA KPU OKU, DEWANTARA JAYA STP - Pentingnya Integritas dan Loyalitas

Penyelenggaraan pemilihan legislatif maupun eksekutif, baik di tingkat kabupaten maupun presiden, tentu ada campur tangan sebuah lembaga bernama Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tidak menutup kemungkinan, kemenangan yang diraih para wakil rakyat maupun kepala daerah dalam pemilihan karena campur tangan “negatif” dari oknum di KPU atau penyelenggara di bawahnya.

Godaan-godaan imbalan hingga sebuah kecaman diterima KPU. Sebab, terkadang semua menginginkan sebuah kemenangan dalam jabatan yang terbatas dan itu tidak mungkin terjadi. Pandangan negatif tersebut dapat ditepis ketika integritas dan loyalitas pada pekerjaan.

Hal itulah yang dirasakan salah seorang anggota KPU Ogan Komering Ulu (OKU), Dewantara Jaya, yang juga mantan Ketua KPU OKU 2003–2008. Seperti apa pengakuannya? Berikut petikan wawancara wartawan KORAN SINDO Palembang Ibrahim Arsyad dengan pria kelahiran 2 Mei 1974 ini.

Apa kabar?

Alhamdulillah, baik.

Bisa diceritakan sudah berapa lama Anda bekerja sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten OKU?

Saya bekerja sebagai anggota KPU sudah memasuki tahun ke-10. Pertama saya bergabung tahun 2003–2008 dan saat itu saya menjabat sebagai Ketua KPU OKU. Sekarang saya hanya sebagai anggota, ketua divisi penyelenggara pemilihan umum, yang sudah di pengujung keberadaan saya sebagai anggota KPU di OKU.

Banyak orang mengatakan kemenangan para calon, baik legislatif maupun eksekutif, KPU sangatlah berpengaruh. Menurut Anda seperti apa?

KPU itu memang memiliki tugas menyelenggarakan pemilihan legislatif dan eksekutif bersama lembaga penyelenggara lainnya. Hal seperti itu sering dilontarkan kepada kami, tapi semua tidak bisa dibuktikan. Bisa saya sampaikan, kemenangan itu bergantung pada seperti apa si calon meyakinkan masyarakat atau massanya. “Kalau kurang diterima masyarakat, bagaimana mau menang.

Anda bisa dikatakan sudah matang dalam penyelenggaraan pemilu, bahkan pernah menjadi Ketua KPU OKU. Bisa diceritakan yang Anda alami terkait isu miring terhadap anggota KPU seperti itu?

Matang? Tidak juga, masih banyak yang lebih pengalamannya dibandingkan saya. Apalagi, saya hanya penyelenggara di tingkat kabupaten, tentu jauh lebih berpengalaman mereka di tingkat provinsi. Isu miring tentu ada. Saya rasa semua pekerjaan ada risiko, plus-minusnya. Kami harus siap menanggung risiko dari sebuah pekerjaan. Godaan atau janji-janji dari para calon pasti ada, tinggal bagaimana kami menyikapi. Kalau, sekadar menguntungkan pribadi, bisa saja. Tetapi, apakah kami rela membiarkan seorang pemimpin atau wakil rakyat tidak prorakyat duduk di pemerintahan?

Pernahkah Anda dituding “bermain” dengan para calon? Bagaimana Anda menyikapi hal demikian?

Sudah pasti iya. Namun, lima tahun saya menjabat ketua saat itu, hanya sekali diprotes masalah mata pilih. Kemudian pada 2010 KPU dituduh bermain, tapi semua itu tidak terbukti dengan dasar keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Menyikapinya, kami harus tenang karena ada prosedur yang ditetapkan untuk protes atau tidak terima dengan proses yang berjalan ke MK. Kalau untuk itu, saya buktikan saja dengan sikap integritas dan loyalitas terhadap pekerjaan. Sebab, kalau kami tidak memiliki integritas, sangat mudah tergoda. Tapi, kalau kami memiliki integritas dan loyalitas terhadap apa pun serta mengacu pada aturan, orang akan sulit tergoda, bahkan digoyang seperti apa pun.

Tidak semua kandidat atau calon legislatif/eksekutif terima dengan kekalahan. Apalagi, ditiupkan isu kekalahan yang tidak sedap, tentu emosi akan muncul. Bagaimana hubungan Anda dengan para calon, yang menang atau yang kalah?

Jangankan yang kalah, yang menang saja terkadang ada lupa dengan kami. Hanya ketika ada kepentingan, baru agak beramahramah. Kemudian, emosi kekalahan itu manusiawi. Siapa sih yang mau kalah, toh tidak ada. Untuk masalah hubungan, kami tetap bersikap profesional. Mereka juga seharusnya paham dengan tugas kami, KPU hanya penyelenggara, bukan pemenangan.

Janji-janji seperti apa yang biasa dilontarkan calon kepada Anda sebagai anggota KPU?

Hehehe, ini sangat sensitif. Saya rasa tidak perlu untuk dibeberkan. Toh, hal seperti itu sepertinya sudah bukan merupakan rahasia umum lagi.

Ini kanpengujung tahun Anda menjadi anggota KPU, Anda sudah merasa cukup di tingkat kabupaten ini?

Betul, saya sudah dua periode menjadi anggota KPU dan pilgub ini akhir penyelenggaraan pemilu yang akan kami selenggarakan. Sebagai manusia, tentu tidak akan puas hingga maut menjemput. Saya tetap akan mendedikasikan kemampuan saya dalam penyelenggaraan pemilu. Kalau memang Allah menghendaki, saya mau menjadi anggota KPU Provinsi Sumsel. Dorongan dalam hati dan dari orang terdekat, untuk ke sana memang cukup kuat.

Moto Anda apa sehingga begitu kuat untuk berkecimpung di KPU? Apa Anda tidak tertarik menjadi politikus?

Moto saya yaitu “sekali layar berkembang, surut kita berpantang”. Dengan kata lain, apa pun risiko yang diambil dalam sebuah pekerjaan itu harus dihadapi. Karena hanya ada dua pilihan, mana kala kami masuk ke pemerintahan, kalau tidak mati, ya penjara. Untuk politik praktis sendiri, memang hingga kini saya belum tertarik. Lagi pula, orang kalau mau jadi wakil rakyat itu kanbutuh uang banyak. Sebagai anggota KPU saja, saya sudah bangga. Setidaknya ada sejarah untuk anak cucu saya, kalau orang tuanya atau kakeknya pernah melahirkan anggota Dewan dan kepala daerah.

Oh ya, selama Anda menjadi anggota KPU, sudah berapa wakil rakyat dan kepala daerah yang Anda lahirkan? Kalau tidak salah, untuk anggota Dewan sudah mencapai 105 orang. Sedangkan, untuk kepala daerah baru dua kali, yakni 2005–2010 Eddy Yusuf dan Yulius Nawawi, kemudian 2010–2015 Yulius Nawawi dan Kuryana Aziz. Di pengujung tahun kami menjadi anggota KPU, tinggal satu lagi tugas kami yaitu, menyukseskan Pilgub Sumsel 2013–2018.

Suka duka selama menjadi anggota KPU OKU?

Berbicara suka atau duka, jelas banyak sukanya, karena kami banyak mengenal para wakil rakyat. Sebagai anggota KPU, saya memiliki kebanggaan tersendiri. Sebab, sangat besar peran kami untuk menjadikan orang sebagai wakil rakyat atau kepala daerah. Memang, mereka dipilih masyarakat, tetapi untuk administrasi, itu kami yang menyeleksi. Sedangkan, duka atau kalau saya boleh bilang lebih ke tantangan pascakampanye, masa tenang, atau pascapencoblosan. Di situlah mulai banyak teror dan kami sama sekali tidak ada istirahat. Tetapi, di situlah serunya menjadi anggota KPU. 


Sabtu 09 November 2013

Related News