CALEG BERBURU KURSI DPR

SURABAYA – Status sebagai anggota legislatif masih menjadi primadona bagi sebagian warga. Tak heran, pada tahun politik seperti 2013 ini, berbagai calon legislatif (Caleg) mulai bermunculan, mulai dari DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi hingga DPR.

Caleg baru muncul laksana cendawan di musim penghujan, sedangkan caleg lama juga tidak mau bergeser dari kursi empuk anggota DPR. Posisi sebagai anggota legislatif yang begitu menggiurkan seolah membuat politisi tak pernah puas. Mereka yang sudah duduk di DPRD Kabupaten/ Kota ingin meningkat ke DPRD Provinsi. Demikian juga yang di DPRD Provinsi juga ingin naik ke DPR RI.

Persaingan ketat pun terjadi di antara mereka. Saling sikut, saling sindir, hingga saling serobot dilakukan agar bisa lolos ke Senayan. Sebagai daerah yang punya jumlah penduduk cukup besar, Jatim mendapatkan jatah kursi DPR hingga 87 kursi. Jumlah ini tersebar di 11 daerah pemilihan (Dapil). Dengan adanya 11partai yang akan berlaga, maka setidaknya ada 957 caleg bersaing di Jatim.

Ini merupakan dampak dari peraturan bahwa setiap partai peserta pemilu harus menempatkan 100% jumlah caleg sesuai kuota kursi di masing-masing daerah. Bagi caleg yang saat ini sudah duduk di DPR, peluangnya mungkin lebih besar dibandingkan dengan caleg baru. Anggota DPR yang ingin mencalonkan lagi diuntungkan nama mereka yang sudah populer di masyarakat. Mereka juga sudah punya jaringan komunikasi dengan masyarakat.

Berbeda dengan caleg baru. Mereka harus membangun jaringan baru agar bisa bersaing dengan caleg lama. Namun demikian keberadaan caleg baru juga punya potensi besar mengancam bahkan mengalahkan caleg lama. Berapakah peluang para caleg baru yang akan maju ke DPR? Pengamat Politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Airlangga Pribadi mengungkapkan, bahwa potensi caleg baru memang sedikit lebih sulit dibandingkan dengan caleg lama.

Untuk itu, para caleg DPR RI yang baru ini sebetulnya sudah harus memulai menggalang dukungan sejak saat ini. Mereka harus sudah terjun ke daerah daerah pemilihan untuk membangun basis dukungan di kelompok masyarakat sipil. ”Yang kedua, mereka juga harus pandai-pandai menjalin komunikasi dengan internal partainya. Di antaranya berdialog dengan para caleg lama, sehingga mereka tidak dihabisi oleh para caleg lama,” katanya kemarin.

Airlangga menilai, persaingan di internal partai akan lebih ketat dibandingkan dengan persaingan di luar. Sebab sebelum bertarung dalam pileg yang sesungguhnya, mereka harus mampu berjuang untuk bisa mendapatkan simpatik dari partainya masing – masing. Ketika Pileg, para caleg baru ini harus menyiapkan saksi di TPS, kemudian mengawal jalannya pemungutan suara dari awal hingga ke tingkat lebih tinggi.

Sebab ini sangat rentan terjadi kecurangan, khususnya dalam perolehan suara. ”Bagi calon baru agak sulit memang iya, tapi tetap ada celah untuk meraup suara lebih banyak. Karena itu sebenarnya dalam persaingan di internal partai dan TPS itu yang sangat menentukan. Terlebih lagi dalam pileg ini, pertarungan tidak lagi pada partai, tapi pada individu mereka masing masing,” tegasnya.

Airlangga menegaskan bahwa dalam pileg nanti juga tidak bisa dilepaskan dari faktor uang. Mereka yang punya modal cukup banyak, kemungkinan untuk mendapatkan suara juga lebih besar. Ini tidak lepas dari masih banyaknya praktik money politic di masyarakat. Ancaman lain bagi para caleg baru ini adalah para caleg dari kalangan artis. Meski tergolong caleg baru, namun mereka sudah punya nama dan popularitas di kalangan masyarakat.

Diantara beberapa caleg dari kalangan artis yang akan maju dari Dapil Jatim diantaranya Eko Patrio dan Hengky Kurniawan dari PAN. Kalangan artis yang pindah jalur ke politik dengan menjadi caleg selalu terjadi dalam setiap Pileg. Pada 2009 lalu, beberapa artis sukses menjadi angora DPR RI melalui Jatim. Ambil contoh almarhum Adji Massaid dari Partai Demokrat, kemudian Eko Patrio dari PAN. Ada juga Denada dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Ratih Sanggarwati, Venna Melinda dari Demokrat, dan Ronni Waluyo.

Di satu sisi, partai baru juga punya posisi yang cukup rentan. Sebab jaringan infrastruktur mereka di daerah dan di masyarakat belum kuat. Sehingga untuk mendapatkan suara masyarakat juga tidak terbilang besar. Itulah yang bisa menjadi kelemahan partai – partai baru. Sementara itu, salah satu caleg yang akan maju ke DPR dari Partai Amanat Nasional Kuswiyanto mengaku cukup optimistis bisa melaju pada pileg mendatang.

Sekretaris DPW PAN sekaligus ketua Fraksi PAN DPRD Jatim ini menandaskan untuk maju ke DPR tidak beda jauh dengan maju ke DPRD Jatim. ”Tentunya mereka yang akan maju ke DPR sudah punya jaringan – jaringan, seperti di kepemudaan, organisasi dan lainnya. Mereka juga sudah punya perhitungan yang kuat untuk mendapatkan suara,” kata Kuswiyanto.

Calon lain dari DPRD Jatim yang akan maju ke DPR adalah Djalaluddin Alham. Anggota Fraksi Demokrat ini mengaku sudah cukup mantab untuk maju ke DPR. Dia mengaku, dari sisi pendaftaran memang sudah sulit.

Bahkan di Partai Demokrat sudah ada 1.211 orang yang mengambil formulir untuk DPR. ”Kalau menurut perkiraan saya, banyak yang tidak sanggup karena sulit, ada faktor geografis dan lainnya. Sebab syaratnya adalah mendapatkan surat kelakuan baik dari Polda Jatim. Kemudian juga dinilai dari track recordmereka,” paparnya.

Ketua DPD Hanura Jatim Kuswanto mengaku bahwa kuota caleg DPR untuk dapil Jatim sudah terpenuhi. Di antara yang akan maju adalah Jatmiko, Zairina, I Wayan Dendra, Jamal Aziz dan Sumintarsih. ”Saya yakin mereka dapat bersaing dengan caleg-caleg lainnya,” tandas ketua Fraksi Hanura Damai DPRD Jatim ini. lutfi yuhandi 

Kamis 14 November 2013

Related News