ITALIA DALAM BAHAYA

TURIN – Kekuatan Bayern Muenchen masih terlalu besar untuk dibendung Juventus. FC Hollywood memperlihatkan kelasnya setelah melangkah ke semifinal Liga Champions dengan keunggulan agregat 4-0. Alarm bahaya untuk Seri A Italia.

Dominasi Bayern sukses meredam permainan Juventus saat menjalani leg kedua babak perempat final di Juventus Arena, Rabu (10/4). La Vecchia Signora, julukan Juventus, tidak bisa memanfaatkan keuntungan kandang untuk membalikkan kekalahan 0-2. Sebaliknya, tuan rumah malah kembali tumbang dengan skor yang sama. Asa sang juara Seri A itu menjuarai Liga Champions tertutup setelah Mario Mandzukic menambah keunggulan pada menit ke-64.

Itu diperparah gol Claudio Pizarro saat injury-time(90+1). Juventus akhirnya tersingkir tanpa sekali pun mencetak gol selama partai perempat final. “Kami kurang maksimal selama 20 menit pertama. Tapi, setelah itu kami menguasai pertandingan. Pada babak kedua, kami menciptakan banyak peluang,” ucap Pelatih Bayern Jupp Heynckes, dilansir Reuters. Hasil ini tentu saja memunculkan pertanyaan soal kualitas Seri A. Juventus yang mendominasi Seri A selama 18 bulan belakangan tampil tidak semestinya. Apalagi, sebelumnya armada Antonio Conte itu belum pernah kalah selama sembilan laga kandang beruntun di semua kompetisi. Khusus kompetisi Eropa, mereka tidak pernah takluk di depan publik sendiri sejak 2010.

“Yang pasti, tim terbaiklah yang lolos. Bayern menunjukkannya pada pertemuan pertama. Itu diulangi lagi di sini (Italia). Kami baru bekerja selama 18 bulan (masa kerja Conte hingga sekarang). Ini adalah momen di mana kami harus bekerja dengan apa yang dimiliki,” ungkap Conte. Ada penjelasan mengapa Juventus tidak bisa menandingi tim tamu pada pertemuan lalu. Bayern tetap tenang sekalipun diintimidasi puluhan ribu fans lawan.

Mental mereka tidak termakan atmosfer di Juventus Arena. Hasilnya, Bayern bisa menampilkan permainannya sendiri. Mandzukic dkk tampil lebih dominan dengan penguasaan bola hingga 56%. Bayern juga lebih agresif dengan melepaskan 17 tembakan dan 10 di antaranya mengarah ke gawang. “Kami tahu laga ini akan sulit, khususnya karena atmosfer di stadion. Itu tidak mudah. Tapi, kami harus tetap tenang dan menunggu gol,” ungkap Mandzukic. Tersingkirnya Juventus makin mempersulit misi Italia untuk memperbaiki peringkat koefisien.

Artinya, selama beberapa musim ke depan, Seri A hanya akan diperkuat tiga wakil. Itu diakui Conte. Dia menyatakan Italia butuh waktu lama untuk mengembalikan pamornya di kompetisi Benua Biru. Alasannya karena sulit bagi wakilnya untuk memenangkan Liga Champions. Faktanya, selama 10 musim belakangan, Italia baru tiga kali jadi juara, lewat AC Milan (2002/2003, 2006/2007) dan Inter Milan (2009/2010). Conte menilai itu karena adanya perbedaan besar antara tim-tim Seri A dan klub-klub kaya Eropa lainnya. Pasalnya, mereka bisa leluasa meningkatkan kekuatan dengan membeli pemain berkualitas.

“Sekarang, saya melihat tim-tim seperti Real Madrid, Manchester City, Bayern Muenchen, Manchester United, Paris Saint–Germain, dan Barcelona merupakan klub yang mempunyai banyak uang. Mereka bisa membeli semua pemain hebat, sedangkan di Italia situasinya berbeda,” tandas Conte. Conte menjadikan Ajax Amsterdam sebagai contoh. Pada masa lalu, raksasa Belanda itu sangat superior. Namun, sekarang malah mengalami kemunduran. Pemicunya karena mereka jarang lagi merekrut pemain bagus.

“Waktu itu, Ajax merupakan tim yang harus dikalahkan di Eropa. Tapi, Ajax yang dulu tidak lagi ada. Sekarang, mereka hanya klub yang mengembangkan para pemain muda. Saya pikir tidak akan ada tim Italia yang bisa menjuarai Liga Champions dalam waktu dekat,” tandas Conte. ●m mirza

Kamis 14 November 2013

Related News