Melawan Sang Guru

Striker Millwall Rob Hulse melepaskan tembakan yang gagal menembus jala Blackburn Rovers pada perempat final Piala FA, bulan lalu.

LONDON– Wigan Athletic versus Millwall pada semifinal Piala FA di Wembley London, malam ini, menjadi arena pertempuran Roberto Martinez dengan Kenny Jackett. Laga ini ibarat si murid melawan sang guru.

Jackett dan Martinez punya satu persamaan. Keduanya pernah bekerja sama saat masih berkutat dengan Swansea City pada periode 2004–2006. Ketika itu, Jackett berstatus pelatih dan Martinez merupakan gelandang bertahan. Selama kurun waktu itu, mereka tidak punya hubungan baik. Martinez jarang dimainkan selama era Jackett. Puncaknya ketika final play-offLeague One (kompetisi level III) 2005/2006.

Pada laga penting itu, Martinez diparkir di bangku cadangan. Soalnya, Jackett memilih Kristian O’Leary dan Owain Tudur untuk menempati posisinya. Martinez makin sakit lantaran tidak dimasukkan dalam daftar pemain cadangan. Setelah itu, Jackett meninggalkan Swansea pada 2007. Menariknya, Martinez kemudian ditunjuk menjadi penggantinya. Kini, keduanya bertemu lagi. Martinez dengan panji Wigan, sedangkan Jackett memimpin rombongan Millwall.

Inilah sebabnya laga ini disebut sebagai pertarungan antara murid dan guru. Selain itu, masih ada beberapa hal menarik yang bisa dinikmati. Bagi Wigan dan Millwall, partai di Wembley ini mempertaruhkan banyak hal. Wigan, misalnya, bila sukses menundukkan tim asuhan Jackett itu, dapat saja berbuah tiket ke Liga Europa. Ini bisa meringankan beban The Latics seandainya nanti terdegradasi. Memang hanya juara Piala FA yang berhak mengikuti Liga Europa.

Tapi, mengingat calon finalis lainnya, yakni Chelsea dan Manchester City (Man City), merupakan anggota 4 besar sementara Liga Primer, Wigan bisa saja yang mendapatkan kesempatan itu. Pasalnya, Chelsea maupun Man City tentunya lebih memilih Liga Champions. Bukan mendahului. Tapi, Chelsea atau Man City dianggap sebagai kandidat utama juara.

Jika ramalan itu terwujud, jatah ke Liga Europa akan diserahkan kepada runner-up. Itu bisa menjadi milik Wigan seandainya mampu melangkah ke partai puncak. “Para pemain tahu apa arti kompetisi ini (Piala FA),” ujar Martinez, dilansir goal.com. Tiket Liga Europa bisa menyelamatkan masa depan Wigan. Maklum, Gary Caldwell dkk kini terancam turun kasta lantaran menempati peringkat 18.

Jika nantinya terlempar dari Liga Primer, pasti akan mengurangi pemasukan klub, yang bukan tidak mungkin berujung pailit. Itu bisa dihindari bila ikut aktif di Benua Biru. Millwall membidik final Piala FA demi membuka kans merengkuh gelar bergengsi pertamanya sepanjang sejarah. Soalnya, prestasi tertinggi sejauh ini hanya menjadi runner-up. Mereka sempat menjadi finalis Piala FA 2003/2004 sebelum dikalahkan Manchester United (MU) 0-3.

Mereka juga pernah tumbang 0-1 dari Wigan pada fase penentuan Piala Liga 1998/1999. Karena itu, duel ini bisa pula dianggap sebagai ajang balas dendam The Lions kepada The Latics. Mereka ingin membalas rasa sakit 14 tahun silam. Misi lainnya adalah menjaga pamor tim dari Championship Division (kompetisi level II).

Pasalnya, mereka merupakan satu-satunya klub dari luar anggota Liga Primer yang masih bertahan. “Kami sudah pasti jadi underdog pada pertandingan nanti. Tapi, itulah yang kami inginkan. Kami bisa bermain lebih lepas. Apalagi, saat ini kami tidak terlalu direpotkan soal degradasi,” ungkap Jackett. ● m mirza   

Sabtu 09 November 2013

Related News