Jateng Barometer Kemenangan PDIP

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berbincang dengan Ketua Fraksi PDI Perjuangan Puan Maharani (kanan), didampingi Calon Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kiri) dan Sekjen DPP PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo dalam apel siaga dan deklarasi pencalonan Ganjar Pranowo dan Heru Sudjatmoko sebagai pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, kemarin.

SOLO– Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Tengah merupakan momen penting bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Kemenangan di Pilkada Jateng diyakini bisa menyelamatkan basis PDIP.

“Saya tegaskan, boleh saja kita pernah dikalahkan suatu partai di daerah lain, tapi tidak untuk Jawa Tengah ini. PDIP di Jawa Tengah harus langgeng dan abadi,” seru Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri saat menyampaikan pidato pengarahan di acara deklarasi pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur Jateng Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko di Stadion Manahan, Solo, kemarin.

Acara deklarasi itu dihadiri ribuan kader dan struktur partai di seluruh kabupaten/kota Jateng. Hadir juga Ketua Tim Pemenangan Ganjar-Heru, Puan Maharani; Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo; Ketua Plt DPD PDIP Jateng M Prakosa; Wakil Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto; dan Eriko Sotarduga. Kader PDIP yang juga menjabat Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ikut hadir. Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih, yang juga kader PDIP, justru tidak hadir meskipun menurut panitia Rustriningsih sudah diundang dalam acara deklarasi tersebut.

Mega yang dalam pidatonya sering menggunakan bahasa Jawa mengungkapkan, basis nasionalis di Jateng harus diselamatkan dengan memenangkan pasangan Ganjar- Heru. Apalagi, sudah ada yang sesumbar untuk menumbangkan dominasi PDIP di Jateng selama ini. Bukan tanpa dasar bagi Mega menyatakan hal ini. Pernyataannya mengacu pada sejarah dan pesan Bung Karno begitu melihat signifikansi kekuatan basis nasionalis di Jateng saat mendirikan PNI.

“Bapak saya selalu bercerita, antara lain sebagai orang yang mendirikan Partai Nasional Indonesia. Dia selalu katakan, Mega, kamu selalu, selalu, selalu, selalu harus ingat bahwa kekuatan nasionalis yang harus selalu diperhitungkan, diselamatkan, itu adanya di Jawa Tengah. Ini pertarungan, sangat pertarungan, ini tarung benar,” ungkap Mega. Dalam pidato itu Mega juga sekaligus membeberkan alasan memilih pasangan Ganjar- Heru, bukan Bibit Waluyo yang dalam pilkada lalu diusung oleh PDIP.

Mega juga membeberkan alasan tidak memilih Rustriningsih. Mega mengatakan, alasan memilih Ganjar-Heru karena keduanya lebih menjamin mengabdikan dirinya ke rakyat dan partai. Sebelum memilih Ganjar- Heru, Mega mengaku sudah mendengarkan aspirasi kader dan bertanya langsung ke bawah sejauh mana tokoh tersebut sering turun ke basis dan seperti apa kontribusinya. Dengan begitu, jelaslah kenapa akhirnya PDIP tidak mengusung Bibit ataupun Rustri.

“Kondisi lima tahun lalu ketika kita memilih Pak Bibit dan Rustri sudah berbeda sekali dengan sekarang,” paparnya. Mantan Presiden RI ini melanjutkan, memberikan amanat kader di eksekutif maupun di legislatif penting untuk mengedepankan loyalitasnya terhadap ideologi. Soal loyalitas, dia hendak menunjukkan bagaimana Bibit yang saat itu diusung oleh PDIP tetapi ketika datang lagi sudah memakai kendaraan Partai Demokrat. “Ini harus diberitahukan, jangan ada yang sembunyi-sembunyi. Pak Bibit itu saya dulu yang bawa. Tapi sekarang milik orang. Mau apa reaksinya nanti terserah,” ujarnya.

Mega juga mengingatkan agar dalam Pilkada Jateng, aparat TNI tetap netral, meski salah satu kandidat berasal dari TNI, bahkan pernah menjabat Pangdam IV Diponegoro. Mega mengaku sudah menerima laporan ada calon tertentu yang sengaja menggunakan TNI, dalam hal ini Babinsa di desadesa untuk mempengaruhi pilihan dalam pilkada. “Babinsa jangan mau disuruh-suruh. Anda bagian dari rakyat dan digaji oleh rakyat. Jangan lagi menakut-nakuti rakyat seperti jaman Orba. Ketika saya menjadi presiden dan ketua umum, tidak pernah menggunakan kekuatan militer untuk menakuti rakyat,” tandas Mega.

Puan Maharani sebagai ketua pemenangan Ganjar- Heru mengatakan, upaya memenangkan pasangan Ganjar Pranowo dan Heru Sudjamoko akan dilakukan secara ideologis, santun, dan berkepribadian serta berlandaskan trisakti Bung Karno. Puan menyebutkan, seluruh kader PDIP, khususnya di Jawa Tengah, menjadi garda terdepan dan berjuang sampai tetes darah penghabisan untuk rakyat yang mengharapkan perubahan. Seluruh kader, ujarnya, siap mengantarkan pasangan Ganjar-Heru memimpin Jateng untuk masa bakti 2013- 2018.

“Acara ini sekaligus sebagai ajang konsolidasi dan koordinasi mesin partai guna memenangkan pasangan Ganjar- Heru. Tidak hanya para kepala daerah dari PDIP, seluruh anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Tengah juga hadir dan ikut berjuang,” kata Ketua DPP PDIP Bidang Politik dan Hubungan Antar-Lembaga ini. Calon gubernur Ganjar Pranowo mengungkapkan, kepercayaan yang diberikan partai untuk maju di Pilkada Jateng adalah perjuangan ideologis untuk memperjuangkan spirit organisasi. PDIP yang merupakan partainya “wong cilik” tidak boleh diam di tengah kondisi petani menjerit dan nelayan menangis.

“Untuk bisa memenangkan perjuangan ini, kuncinya hanya dengan gotongroyong,” katanya. Karena itu, dia berharap segenap pengurus dan kader, dan para relawan bersama-sama terlibat langsung dalam perjuangan ideologis tersebut. Diketahui Pilkada Jateng diikuti oleh tiga pasangan calon. Mereka adalah Bibit Waluyo dan Soedijono Sastroatmodjo, Ganjar Pranowo dan Heru Sudjatmoko, serta Hadi Prabowo dan Don Murdono.

Bibit merupakan calon incumbent yang saat ini masih menjabat Gub ernur Jateng. Sedangkan Hadi Prabowo masih menjabat Sekda Jateng. rahmat sahid

Selasa 12 November 2013

Related News