Yogya-Lombok Join Promosi Wisata

Sejumlah wanita Sasak (suku di Lombok) memakai pakaian adat saat mengikuti pawai budaya Sasak Day di sepanjang Malioboro Yogyakarta, kemarin. Sasak Day merupakan acara keakraban dan promosi budaya Sasak yang diikuti masyarakat, termasuk mahasiswa Lombok yang tinggal dan belajar di Kota Yogyakarta.

YOGYAKARTA– Pemprov Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) siap menjalin kerja sama promosi pariwisata.

Dinas Pariwisata DIY siap mempromosikan wisata di Lombok, demikian juga sebaliknya. Kedua belah pihak merasa perlu mendongkrak kunjungan wisata masing-masing daerah dengan menjual paket bundling wisata Yogyakarta–Lombok. ”Yogyakarta kental dengan wisata heritage, sedangkan Lombok atau NTB sangat cantik wisata alamnya. Kerja sama ini akan saling menguntungkan,” kata Kepala Dinas Pariwisata DIY Muhammad Tazbir Abdullah di Hotel Jambuluwuk Yogyakarta kemarin.

Tazbir mempersilakan Pemprov NTB turut ambil bagian dari sejumlah event festival budaya yang kerap dilakukan di Yogyakarta. Selain itu, Tazbir turut bangga dengan hadirnya eventSasak Day di Yogyakarta, sebagai bagian dari keberagaman budaya Tanah Air yang dipertontonkan di wilayah Yogyakarta. Sekda NTB Muhammad Nur menambahkan, upaya pengurus DPD Indonesia Congress & Convention Association (INCCA) NTB menggelar roadshow promosi pariwisata ke Yogyakarta merupakan langkah nyata progresivitas pariwisata Lombok.

”Kegiatan memadukan paket wisata Yogya- NTB atau Lombok atau Mataram kian memperkokoh tali silaturahmi kedua provinsi ini,” katanya. Hal serupa dikemukakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB Lalu Gita Ariadi. Pihaknya turut prihatin akan berbagai aksi kekerasan yang belakangan melanda DIY. ”Oleh karena itu, dalam event Sasak Day ini kita membawa pesan damai dari masyarakat Indonesia timur. Sebab, NTB atau Lombok adalah salah satu kawasan Indonesia timur,” ujarnya.

Dengan grand opening Bandara Internasional Lombok (BIL) di Praya, dimungkinkan berbagai penerbangan pesawat berbadan lebar bisa langsung dari manapun juga termasuk dari Yogyakarta. ”Untuk itu, kita sambut baik upaya maskapai dalam merajut jalur langsung penerbangan Lombok-Yogya PP ini menggenjot promosi bersama pariwisata, dengan cara duduk bersama ini tempat ini,” papar Gita Ariadi.

Pesan Damai dari Sasak

Sore kemarin masyarakat suku Sasak di Yogyakarta menggelar Sasak Day. ”Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat Yogyakarta bahwa kami datang ke sini tidak akan membuat kerusuhan,” ujar ketua panitia Sasak Day 2013, Jien Tirta Raharja. Acara ini dilaksanakan untuk memperkenalkan budaya sasak kepada masyarakat yang ada di DIY.

”Yogya sebagai miniatur Indonesia bisa menjadi wadah bagi kami untuk memperkenalkan budaya Sasak kepada masyarakat luas, baik manca (mancanegara) maupun domestik. Hari ini kami mengajak semua elemen untuk berkunjung ke Sumbawa,” katanya Karnaval tersebut menampilkan adat Sasak yang sangat terkenal yaitu Nyongkolan. Tradisi turun-temurun ini adalah rangkaian acara pernikahan.

Di dalam Nyongkolan, pengantin perempuan di antar ke rumah pengantin laki-laki dengan beramai- ramai menggunakan pakaian adat Sasak. Tujuan dari Nyongkolan ini adalah untuk memperkenalkan kedua mempelai kepada masyarakat bahwa mereka telah menikah. Pasangan pengantin diperankan oleh putra putri mutiara Lombok, yaitu Baiq Merystha Yonanda dan Kia Adam. Pengantin diarak dari depan Kantor Dinas Pariwisata melewati Jalan Malioboro sampai Alun-alun Utara dengan iring iringan berbagai kesenian.

Di antaranya terdapat gendang beleq. Kata beleq merupakan bahasa Lombok yang mempunyai makna besar. Jadi, gendang beleq adalah gendang yang besar dan ketika ditabuh akan menghasilkan suara yang sangat keras. Selain itu, ada pula seni tawaq-tawaq. Selain Nyongkolan, di acara ini juga digelar adat Bejanggeran, Gandruk, dan pertunjukan wayang kulit asli Sasak. Pertunjukan wayang ini menceritakan tentang asal-muasal Lombok atau suku Sasak, serta makna dari kata Lombok itu sendiri. ● muh fauzi / winda sulistyorini

Sabtu 09 November 2013

Related News