Angka Kematian Ibu Tinggi

MEDAN– Angka Kematian Ibu (AKI) di Sumatera Utara (Sumut) masih tinggi, yakni mencapai 230/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2012. Ini jauh di atas AKI nasional yang hanya 102/100.000 kelahiran hidup.

Tingginya AKI Sumut yang diperoleh lewat survei Universitas Sumatera Utara (USU) dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumut ini mendapat perhatian dari Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi saat berkunjung ke Medan baru-baru ini. Menkes meminta Dinkes Sumut berusaha lebih keras untuk menangani permasalahan ini. Kepala bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumut Kustinah mengatakan, salah satu penyebab kematian ibu melahirkan disebabkan pendarahan pada saat persalinan.

Jika tidak ditangani dengan cepat, pendarahandapatmenyebabkanibutidaktertolong. “Pendarahan ini biasanya banyak penyebabnya. Sarana menuju tempat pelayanan yang cukup jauh dan menikah muda menjadi beberapapenyebabnya,” paparnya, Selasa (30/4). Selain itu, masih ada beberapa daerah yang masyarakatnya lebih memilih melahirkan dengan bantuan dukun beranak daripada petugas medis. Padahal, dukun beranak tidak memiliki ilmu tentang cara pertolongan persalinan secara akademisi, melainkan hanya berdasarkan pengalaman saja.

Peralatan yang digunakan pun seadanya sehingga tidak mampu menangani masalah jika terjadi pendarahan hebat saat ibu melahirkan. Ini disebabkan minimnya pengetahuan masyarakat tentang persalinan dan kehamilan, kurangnya penyuluhan dan minimnya dokter kandungan, serta bidan di daerah-daerah pelosok. Meski AKI Sumut di atas nasional, jelas Kustinah, angka ini sudah turun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada 2010, AKI Sumut sekitar 268/ 100.000 kelahiran hidup. Kemudian di tahun 2011, AKI Sumut turun menjadi 249/ 100.000 kelahiran hidup.

“Kami terus berusaha agar AKI Sumut turun hingga 118/ 100.000 kelahiran hidup setiap tahunnya. Salah satu caranya dengan program Jampersal (Jaminan Persalinan),” tuturnya. Jampersal diharapkan dapat menekan AKI. Dengan program ini, biaya yang ditanggulangi untuk pemeriksaan kehamilan sebanyak empat kali. Selanjutnya, ibu juga mendapatkan pertolongan persalinan, pelayanan bayi baru lahir, pelayanan nifas, dan KB pascapersalinan. “Kami juga mengharapkan agar bidan yang jumlahnya mencapai 10.000 dapat memberikan bantuan persalinan bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Sumut Idau Ginting mengungkapkan, untuk meminimalisasi AKI Sumut, ilmu para bidan sering ditingkatkan melalui seminar dan pelatihan. Dengan begitu, para bidan tetap bisa memberikan pelayanan berkualitas kepada ibu melahirkan. “Kami juga menyarankan agar bidan segera membawa dan merujuk ibu hamil dan melahirkan di tempat yang fasilitas medisnya cukup, tidak melahirkan di rumah,” tandasnya. siti amelia

Kamis 16 Mei 2013

Related News