Mabes Polri Usut PT Lautan Emas Mulia

BANDUNG – Mabes Polri segera menyelidiki penipuan berkedok investasi emas yang dilakukan PT Lautan Emas Mulia (LEM). Polri berupaya mengumpulkan fakta-fakta mengenai kejahatan itu dan berharap ada laporan dari masyarakat sebagai bahan pendukung penyelidikan.

“Kita mencermati kejadian ini. Kejahatan bermodus investasi emas bodong bukan kali pertama terjadi,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Pol Agus Rianto di Jakarta kemarin. Dia menuturkan, pengusutan kasus ini sangat bergantung pada laporan masyarakat atau laporan dari anggota kepolisian yang telah mengantongi informasi detail. Ribuanorangdidugamenjadi korban PT LEM.

Perusahaan investasiyangberkantorpusatdi Menara Global, Lantai12Suite B, Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav 27 Jakarta itu menjerat investor atau nasabah dengan iming-iming bonus rutin menggiurkan, yakni 2,5% per bulan dari total investasi yang ditanamkan. Denganimbalbalik (return) demikian besar, banyak orang tergiur. Belakangan, PT LEM ternyata wanprestasi.

Kasus ini mengulang kejadian serupa yang dilakukan PT Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS), Raihan Jewellery, atau Virgin Gold Mining Corporation (VGMC). Dalam penelusuran KORAN SINDO, kantor pusat PT LEM sudah dalam keadaan kosong. Seorang petugas keamanan yang berjaga mengatakan, pimpinan PT LEM tak lagi diketahui keberadaannya sejak dua bulan lalu.

Hal yang sama juga terjadi di Kantor PT LEM Bandung, Jalan Pasir Kaliki. Kantor itu tutup dan tak satu pun karyawan diketahui keberadaannya. Ratusan nasabah yang menggeruduk kantor tersebut pada Selasa (30/4) pun kecele. Jefry M Hutagalung, pengacara para nasabah, memastikan bakal melaporkan kasus ini ke kepolisian. ”Kami akan secepatnya laporkan PT LEM ke Polda Jabar,” kata dia saat dihubungi kemarin.

Jefry menuturkan, keresahan nasabah terjadi setelah mereka memperoleh informasi PT LEM sedang beperkara di pengadilan karena digugat pailit. Nasabah khawatir uang investasi mereka raib. Apalagi, pembayaran keuntungan yang dijanjikan perusahaan itu juga ngadat sejak akhir 2012. ”Tidak ada iktikad baik dari perusahaan untuk membicarakan masalah ini. Pada 28 Februari, manajemen PT LEM masih mengaku sehat, tetapi 11 Maret sudah kolaps.

Wajar bila nasabah ingin uangnya kembali,” kata dia. Jefry menuturkan, nasabah PT LEM di Bandung diperkirakan 400 orang dengan nilai total investasi sekitar Rp40 miliar. Dalam berinvestasi, ada yang memilih cara fisik dan nonfisik atau keduanya. Untuk investasi emas fisik, nasabah diharuskan membeli emas minimal 100 gram. Adapun nonfisik, nasabah harus membeli emas minimal 25 gram dengan harga 30% lebih tinggi dari harga beli di pasaran.

Untuk menarik investasi, nasabah dijanjikan keuntungan per bulan 2– 4,5% dari total nilai investasi emas. “PT LEM sudah tiga tahun beroperasi di Bandung dan menarik dana nasabah dari berbagai kalangan,” tuturnya. Salah seorang nasabah PT LEM, Merry, mengaku menginvestasikan uang Rp1,4 miliar atas nama anaknya dengan dijanjikan keuntungan 4% per bulan.

Sejak berinvestasi dirinya baru sekali mendapatkan keuntungan. “Kami tetap menuntut kejelasan investasi ini, apalagi harga emas yang kami beli jauh lebih mahal dari harga di pasaran,” katanya. Hal senada dikatakan Wawan, nasabah lain. Dia mengaku menginvestasikan uang Rp700 juta dengan cara bertahap dengan janji keuntungan 4–5%. “Biasanya bagi hasil keuntungan ditransfer melalui rekening pribadi,” kata dia.

Tapi, pembagian imbal balik itu tersendat pada akhir 2012 dan benarbenar mandek pada 2013. Wawan mengatakan, para nasabah sedianya mencari karyawan PT LEM untuk menuntut pertanggungjawaban. Sayangnya, Kantor PT LEM Bandung sudah tidak beroperasi. Di kantor itu hanya tertera kertas yang menginformasikan seluruh aktivitas kantor dipindah ke Jakarta.

Agus Rianto mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya dengan tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan instan dan bernilai besar. “Masyarakat semestinya belajar dari kasus-kasus yang pernah ada. Sebelum berinvestasi lihat dulu background perusahaan,” tutur dia. krisiandi sacawisastra/ raden bagja mulyana

Jumat 08 November 2013

Related News