Kematian Sundari Tidak Wajar

KUDUS– Seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Kudus, Tri Sundari, 23, meninggal di Singapura. Pihak keluarga tidak percaya Tri meninggal karena terjatuh dari apartemen majikannya, mereka meminta penyelidikan lebih jauh atas peristiwa ini.

Tri meninggal di Singapura Senin (29/4). Jenazahnya tiba di Bandara A Yani Semarang pada Kamis (2/5) pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Kemudian, tiba di rumah duka di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kudus sekitar pukul 09.15 WIB. “Kami tidak menyangka nasib Tri Sundari seperti ini. Dia baru berangkat ke Singapura 13 Maret 2013. Namun belum genap dua bulan bekerja, dia sudah meninggal dunia,” kata juru bicara keluarga korban, Jasri, 40, kemarin.

Berdasar informasi yang diberikan pihak pihak PJTKI PT Graha Indrawahana Perkasa, Tri Sundari meninggal dunia setelah terjatuh dari apartemen majikannya. Hanya saja, pihak PJTKI tersebut tidak memberikan keterangan detail penyebab kematian korban. Jasri yang juga paman Tri Sundari mengatakan hingga kini pihak keluarga masih bertanyatanya perihal penyebab pasti kematian korban.

Pihak keluarga justru menemukan adanya sejumlah kejanggalan pada jasad korban. Jasri mencontohkan adanya luka di bagian dada korban. Namun, bagian kepala atau wajah Tri Sundari malah terlihat utuh. Semestinya, jika terjatuh dari apartemen dengan ketinggian tertentu, maka luka yang diderita korban ada pada bagian kepala atau kaki. Namun faktanya, justru Tri Sundari malah mengalami luka di bagian dada.

Bahkan jika dilihat, masih terlihat gumpalan darah di bagian dada korban. “Ini yang kita pertanyakan. Ini sebenarnya ada apa?” tanyanya. Pihak keluarga sebenarnya mengikhlaskan kematian Tri Sundari jika memang penyebabnya karena hal-hal yang normal.

Namun, jika ada hal yang tida wajar, pihaknya akan menempuh upaya lain. Keluarga, menurut Jasri akan bermusyawarah untuk menentukan langkah selanjutnya. Termasuk meminta otopsi atas jenazah korban untuk mengetahui sebab kematiannya. “Kami ingin tidak ada hal-hal yang ditutupi dalam persoalan ini,” jelasnya.

Korban menerima uang santunan sebesar Rp10 juta. Selain itu, korban juga akan menerima klaim asuransi yang saat ini masih dalam proses administrasi. Kepala Bidang Penempatan Kerja dan Transmigrasi Dinsosnakertrans Kabupaten Kudus, Catur Widyatmo mengatakan pihaknya siap memfasilitasi jika keluarga korban tidak puas dengan informasi tentang penyebab kematian Tri. Termasuk jika keluarga Tri menginginkan otopsi.

Meski begitu, menurut Catur, biasanya proses pengiriman jenazah dari satu negara ke negara lain sudah disertai dokumen penyebab kematian. Misalnya soal riwayat atau penyebab kematian pasti korban.

“Kalau soal otopsi itu semua hak pihak keluarga korban. Tapi kami siap memfasilitasi jika mereka ingin tahu secara pasti penyebab kematian Tri Sundari,” tandasnya. muhammad oliez

Kamis 16 Mei 2013

Related News