Gili Iyang, Sumenep, Pulau Beroksigen Tinggi - Bernapas pun Terasa Ringan

Penduduk Gili Iyang menyiapkan perahu mereka untuk mencari ikan. Berdasarkan penelitian, pulau ini memiliki kandungan oksigen hingga 27%.

Jatim juga masih memiliki potensi alam lain yang belum tersibak, bahkan keistimewaannya hampir tak ada tandingannya.Keindahan alam Jawa Timur (Jatim) sudah cukup terkenal ke berbagai penjuru dunia, mulai dari Gunung Bromo, Kawah Gunung Ijen, air terjun yang tersebar di berbagai daerah, hingga pasir pantainya yang putih. Jatim juga masih memiliki potensi alam lain yang belum tersibak, bahkan keistimewaannya hampir tak ada tandingannya.

Pulau Gili Iyang salah satunya. Pulau yang terletak di sebelah timur Kabupaten Sumenep Madura adalah sebuah pulau yang memiliki udara dengan kadar oksigen cukup tinggi. Bahkan ketinggian kadar oksigennya mencapai 27% adalah termasuk tertinggi di dunia selain Yordania. Tak hanya itu, Gili Iyang juga memiliki pantai pasir putih, menawan siapa pun yang berkunjung ke sana.

Pulau Gili Iyang sebenarnya sudah diketahui banyak orang, khususnya masyarakat Sumenep. Namun tak banyak di antara mereka yang tahu persis keistimewaan pulau tersebut. Warga dua desa yang tinggal di pulau itu juga belum lama ini baru tahu jika pulau yang mereka tempati memiliki keistimewaan luar biasa. Untuk menjangkau pulau ini, memang membutuhkan ”perjuangan”.

Betapa tidak, dari Surabaya menuju Sumenep dengan perjalanan darat membutuhkan waktu antara 3,5 – 4 jam. Untuk menuju Pulau Gili Iyang juga harus menyeberang lagi menggunakan perahu yang biasa digunakan para nelayan. Untuk sekali penye-berangan yang memakan waktu sekitar 40 menit itu, setidaknya harus mengeluarkan biaya Rp5.000 per orang. Namun, jika yang datang adalah rombongan, bisa menyewa satu perahu seharga Rp150.000 untuk pulang pergi ke pulau tersebut.

Di tengah perjalanan laut menuju pulau dengan luas hampir sembilan kilometer persegi itu, pengunjung sudah bisa melihat dengan jelas keindahan pulau tersebut. Selama perjalanan, pengunjung juga bisa melihat para nelayan menebar jala, dan menjaring ikan sebagai mata pencaharian sebagian besar penduduk Gili Iyang yang berjumlah sekitar 8.000 jiwa. Semakin mendekat ke pulau, jelas terlihat deretan perahu khas Madura yang bersandar di bibir pantai.

Begitu perahu penumpang sandar di dermaga kecil Desa Banra’as, satu dari dua desa yang ada di pulau itu, udara segar langsung menyeruak masuk hidung hingga terasa segar di dalam paru-paru. Memang, sangat terasa perbedaan udara di Pulau Gili Iyang dengan udara di daerah lain, terlebih lagi udara di kawasan perkotaan terkontaminasi asap kendaraan bermotor, asap pabrik, dan lainnya.

Ketika bernapas terasa begitu ringan, ditambah dengan hempasan udara sejuk yang mengalir sepoi-sepoi seakan membelai halus kulit tangan dan wajah secara langsung. Rasanya berbeda ketika bernapas di perkotaan yang terkesan cukup berat, bahkan udara perkotaan seperti Surabaya terkadang membuat sesak napas. Betapa tidak, kadar oksigen dalam udara di perkotaan rata-rata hanya berkisar antara 16-17 % saja, sementara di Gili Iyang bisa mencapai 27%, dan titik terendahnya antara 20-23 %.

Ketika pengunjung dipaksa berjalan menyusuri jalan pedesaan, langkah kaki terasa begitu ringan. Berjalan sepanjang sekitar 2-3 km pun seakan tanpa beban, kondisi udara yang cukup bagus itu membuat napas tak tersengal-sengal, meski berjalan jauh. ”Itulah keistimewaan udara di sini,” kata anggota Komisi E DPRD Jatim Achmad Iskandar saat berkunjung ke Gili Iyang beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan, keistimewaan udara di pulau tersebut diketahui tahun 2006 lalu. Saat ini, peneliti di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mendapati dari pantauan satelit bahwa kandungan oksigen di pulau tersebut cukup tinggi. Akhirnya LAPAN melakukan penelitian selama tiga bulan di tempat itu dengan menebar delapan alat pengukur kandungan oksigen di udara.

Selama tiga bulan, penelitian dilakukan terus menerus, sampai akhirnya LAPAN benar-benar mendapati bahwa kandungan udara di Gili Iyang cukup tinggi. Bahkan sekali waktu, ketinggian kandungan oksigen di tempat itu mengalahkan salah satu daerah di Yordania yang juga memiliki kandungan oksigen cukup tinggi.

Penyebab kandungan oksigen yang cukup tinggi itu karena pengaruh perputaran udara dari laut sekitar pulau itu. ”Kawasan Pulau Gili Iyang itu masih belum banyak pencemaran udara, kawasannya masih alami dan bersih. Selain itu, di Gili Iyang juga banyak tempat – tempat bagus, seperti gua di dalamnya ada stalaktit dan stalakmitnya. Ada juga tulang ikan paus yang panjangnya mencapai 24 m,” kata Iskandar.

Iskandar menilai kawasan tersebut tinggal membutuhkan sedikit sentuhan untuk bisa menjadi kawasan wisata, khususnya wisata kesehatan. Karena itu dia meminta semua instansi terkait agar benar-benar memperhatikan potensi tersebut, mulai dari Bupati Sumenep, Dinas Pariwisata Sumenep, dan Dinas Pariwisata Jatim.

Dengan dikembangkan sebagai kawasan wisata, tentunya akan mendatangkan nilai tambah bagi penduduk sekitar. Terlebih untuk merasakan khasiat udara di Gili Iyang ini, setidaknya pengunjung harus menginap. Lebih lama tinggal di Gili Iyang, semakin lebih baik untuk terapi kesehatan. ”Rencananya, Pak Gubernur juga akan mempromosikan Gili Iyang ke presiden saat berkunjung ke Jatim. Selain itu juga akan melakukan promosi besar besaran,” tambahnya.

Kepala Desa Banra’as Masdawi mengatakan, kualitas udara di desanya itu sudah terbukti dan dirasakan masyarakat setempat. Salah satu bukti yang ada adalah tingkat kesehatan masyarakat yang cukup tinggi, mereka jarang terserang penyakit. Selain itu usia masyarakat setempat juga relatif lebih panjang.

”Tapi di Gili Iyang itu kebanyakan yang meninggal adalah yang laki-laki dulu. Sebab mayoritas mereka itu perokok, sedangkan yang perempuan tidak. Bahkan di desa Banra’as sempat ada wanita yang usianya sekitar 130 tahun, dan baru meninggal sekitar enam bulan lalu,” katanya.

Saat ini banyak wanita tua yang usianya sudah lebih dari 90 tahun. Yang mengherankan lagi adalah kondisi mereka cukup sehat untuk beraktivitas sehari hari, seperti bercocok tanam, hingga mencari rumput untuk binatang ternak mereka. ”Kebanyakan yang tua itu perempuan, dan mereka biasanya ke ladang atau mencari pakan untuk ternak. Sedangkan kaum laki-laki, terutama yang masih muda dan kuat, lebih memilih bekerja sebagai nelayan. Jadi di sini banyak yang punya perahu,” sambung Masdawi.

Kekayaan alam ini pun sudah didengar Gubernur Jatim Soekarwo. Mengetahui potensi tersebut, dia pun langsung terkesima dan akan serius menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan destinasi wisata kesehatan. Sebab, dengan kandungan oksigen yang titik tertingginya bisa mencapai 27% ini, akan mampu menjadi terapi penyembuhan beberapa penyakit.

”Bayangkan, untuk mendapatkan oksigen di rumah sakit harus mengeluarkan biaya cukup mahal, sedangkan di Gili Iyang hanya cukup tiga hari tanpa mengeluarkan banyak biaya sudah bisa menyembuhkan rematik dan lainnya,” kata Gubernur Jatim Soekarwo. ”Saya akan serius menjualnya (Gili Iyang sebagai kawasan wisata kesehatan), saya akan kampanye besar-besaran. Karena tempat seperti itu hanya ada dua, di Yordania dan di sini. Pasir putihnya juga cukup bagus. Sekali lagi, saya besar-besaran akan menjual itu,” ujarnya.

Menurut Pakde Karwo, pascapembangunan Jembatan Suramadu, ada dua wisata yang akan dijual di Madura. Yang pertama adalah wisata spiritual, sebab di Madura banyak sekali tempat-tempat makam tinggi. Kemudian yang kedua adalah wisata kesehatan dengan konsentrasi di Pulau Gili Iyang.

Perlu diketahui, Pulau Gili Iyang ini juga sering digunakan sebagai tempat istirahat para raja, seperti Raja Majapahit dan Sumenep. Untuk pengembangan Madura, Pemprov Jatim akan menggandeng Badan Pengembangan Wilayah Suramadu (BPWS). Sementara itu, Kabid Pengembangan Produk Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim Handoyo mengakui bahwa Pulau Gili Iyang cukup bagus serta berpotensi besar untuk menjadi tempat wisata kesehatan.

”Saya telah merasakan sendiri segarnya udara di sana, cukup bagus dan berpotensi besar. Nanti bisa dikembangkan menjadi wisata alami pedesaan. Para turis bisa menginap di rumah warga dan ikut kegiatan sehari hari mereka. Wisata seperti itu yang saat ini banyak diminati,” ungkap Handoyo. LUTFI YUHANDI Sumenep


Jumat 08 November 2013

Related News