Rekonstruksi Perusakan Gereja - Bom Molotov Dirakit di Markas Geng Motor

Anggota geng motor Mappakoe, Arif Katombo, 17, memeragakan saat dia melempar bom molotov di depan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sulsel di Jalan Samiun Makassar, kemarin.

MAKASSAR – Anggota geng motor Mappakoe ternyata tidak hanya menjadi eksekutor pelemparan bom molotov ke lima gereja di Kota Makassar pada Februari lalu. Bom molotov ternyata juga dirakit sendiri oleh pelaku di markas geng motor tersebut.

Hal itu diketahui berdasarkan rekonstruksi pelemparan bom molotov di Gereja Kristen Indonesia(GKI) SulselJalanSamiun, Kecamatan Ujung Pandang yang dilakukan kemarin. Selain di GKI Sulsel, polisi juga mereka ulang proses perakitan bom molotov yang dilakukan para tersangka di markas geng motor Mappakkoe di Jalan Abdullah Daeng Sirua, Panakkukang. Dalam rekonstruksi itu, tersangka Ari Katombo yang ditangkap di Kendari, Sulawesi Tenggara, Jumat (10/5) memerankan 16 adegan.

Sementara adegan tiga rekannya diperankan oleh petugas kepolisian. Eko Wagiyanto menjelaskan, para tersangka awalnya mengambil botol minuman keras di markasnya. Setelah itu diisi bensin dari sepeda motornya. Untuk sumbunya, Ari Katombo menggunakan sisa-sisa kain dari sebuah kios penjahit pakaian di Jalan Abdullah Daeng Sirua, Makassar. Pelaku kemudian berangkat menggunakan dua sepeda motor ke beberapa TKP.

Lima titik aksi yang diduga dilakukan geng motor ini yakni Gereja Toraja Mamasa (GTM) Jemaat Jordan Jalan Dirgantara, Panakkukang, Gereja Toraja Jemaat Tiatira Malengkeri Jalan Masjid Nurul Muhajirin, Tamalate, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sulsel di Jalan Samiun, Gereja Toraja di Jalan Gatot Subroto, dan Gereja Toraja Klasis di Jalan AP Pettarani II, Panakkukang.

Pertaruhan Kredibilitas Polisi

Sementara itu, kredibilitas aparat penegak hukum dipertaruhkan saat hendak mengungkap aktor intelektual di balik kasus teror bom molotov di lima rumah ibadah di Kota Makassar. Masyarakat akan percaya komitmen polisi jika aktor intelektual kasus ini berani diungkap ke publik. Sebaliknya, kredibilitas polisi akan makin runtuh jika otak di balik kasus yang meresahkan itu tidak ditangkap dan diproses hukum.

“Akan sangat miris kalau polisi ternyata tidak berani membongkar kasus ini,” ujar Wakil Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar Zulkifli di Makassar kemarin. Kriminolog dari Unhas Muhaddar mengatakan, di balik aksi geng motor yang menyerang lima gereja dengan molotov ini terkait dengan kekuatan uang dan kekuasaan. Dengan kedua kekuatan tersebut, aktor intelektual ini bisa mengarahkan anggota geng motor untuk melakukan aksi kriminal.

“(Geng motor) ini dimobilisasi, tentu dengan tujuan politik dan kekuasaan. Itu sudah bisa kami tebak setelah kejadian beberapa bulan lalu,” ujar Muhaddar saat dihubungi KORAN SINDOkemarin. Dia mengatakan, penyidik kepolisian pasti telah mengetahui aktor intelektual bom molotov gereja ini. Hanya, polisi tidak memiliki keberanian untuk mengusutnya hingga tuntas. “Kalau kekuatan kekuasaan dan uang sudah menyatu, kita tidak bisa bikin apa-apa.

Polisi juga pasti akan berpihak ke situ,” ujar dia. Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Eko Wagiyanto yang dikonfirmasi membantah jika penyidik Polri takut mengungkap siapa pemesan kasus bom molotov ini. Dia berdalih, seluruh hasil keterangan tersangka akan dikumpulkan dan dicocokkan dengan keterangan tersangka lainnya. Dari situ aktor intelektual ini baru bisa jelas diketahui.

“Kami tidak bisa percaya begitu saja dengan keterangan tersangka, tapi harus melalui alat bukti, serta saksi yang kuat. Dari situ kami baru bisa mengembangkannya,” ujar Eko. Diamenerangkan, setelahseluruh pelaku eksekutor bom molotov tertangkap, pihaknya baru akan mengarahkannya ke dugaan adanya aktor intelektual. _ wahyudi       


Kamis 14 November 2013

Related News