Pembunuh Rista Masih Misterius

PONOROGO– Misteri pembunuhan sadis terhadap Rista Fransisca, siswa SMKN 1 Ponorogo belum terungkap. Sejak mayatnya ditemukan Jumat (12/7) malam, polisi masih kesulitan mengungkap kasus ini.

Polisi hanya menguatkan dugaan bahwa pelaku lebih dari satu orang. Dugaan ini didasarkan pada besarnya batu yang ditimpakan ke tubuh Rista yang besarnya lebih dari enam kali bola sepak dan cukup berat. “Batu besar itu ternyata landasan untuk mengupas kelapa muda oleh pedagang di warung tenda itu. Cukup berat diangkat atau digelindingkan sendiri. Jadi kemungkinan ya lebih dari satu pelaku,” kata Kasatreskrim Polres Ponorogo AKP Misrun, kemarin.

Menurut Misrun, dalam kasus pembunuhan, pelaku biasanya adalah orang dekat korban. Polisi telah memeriksa 13 saksi atas pembunuhan remaja putri asal Dusun Sejeruk, Desa/ Kecamatan Kauman, Ponorogo itu. Mereka adalah kawan sekolah, tetangga, keluarga, dan kawan- kawan ayah Rista.Dari catatan lain milik korban, polisi juga menemukan beberapa nama lain yang ditengara merupakan pacar-pacar korban. Pacarpacar korban ini patut dicurigai sebagai pelaku,” terang Misrun.

“Biasanya pembunuhan seperti ini dilakukan oleh orang dekat korban. Kan bukan perampokan, sebab barang-barang milik korban tidak ada yang hilang. Ada beberapa nama yang kami pull up (angkat) dari pesawat BB (Blackberry) dan akun FB (Fecebook) korban. Tapi belum ada yang mengarah ke pelaku. Banyak yang memakai nama samaran. Tapi kami sekuat tenaga melakukan ungkap kasus terhadap kejadian ini,” kata Misrun.

Soalmotif, AKPMisrunyakin berkaitan erat dengan kehamilanRista yang sesuai hasil visum sudah 6-7 bulan. Ada saksi yang mengakui pernah ada kawan Rista yang mengantarnya mencari dokter aborsi. Para tetangga pun mengaku tak punya petunjuk apa pun soal hilangnya nyawa Rista. Mereka sulit mengingat tamu yang sering menjemput Rista keluar rumah di luar jam berangkat atau pulang sekolah. Sebab, kebanyakan hanya memutar di depan rumah dan langsung keluar gang begitu Rista menaiki kendaran tersebut.

“Yang menjemput banyak dan berganti-ganti. Tapi semua tidak pernah melepas helm saat menjemput Rista. Kami pun kesulitan mengenali mereka karena hanya sejenak saja di depan rumah saya,”ungkap Suhardjono, warga yang rumahnya tepat di depan rumah Katijan yang selama ini ditinggali Rista. ●dili eyato

Sabtu 09 November 2013

Related News