Dimutasi Massal, Guru SD Resah

MOJOKERTO– Mutasi besarbesaran dilakukan Pemkab Mojokerto terhadap Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari kalangan guru Sekolah Dasar (SD).

Mutasi massal itu banyak dikeluhkan kalangan guru, apalagi ada aroma suap yang merebak. Jumlah PNS dari kalangan guru SDdiKabupatenMojokerto mencapai 2.511 orang. Dalam mutasi massal ini, sedikitnya 2.381 guru yang menjadi sasaran mutasi. Lebihdari 90persenguru digeser itu sontak membuat iklim pendidikan dasar ini bergolak. Bahkan ada guru yang sengaja takmasukkerjadihari pertama masuk kerja kemarin. Salah satu sekolah yang terdampak mutasi massal ini adalah SDN Sooko I, Kecamatan Sooko. Di sekolah favorit ini, jumlah guru dari PNS sebanyak 22 orang.

Mereka yang dimutasi sebanyak 12 guru. Mutasi di sekolah ini juga mendapatkan perlawanan dari para guru. Mereka enggan masuk di sekolah yang baru dengan alasan mutasi kali ini mengabaikan banyak hal penting. Salah satu guru yang menjadi sasaran mutasi ini mengatakan, hal penting yang dilupakan dalam mutasi massal ini adalah faktor teknis. Menurutnya, banyak guru yang dimutasi tanpa sebab yang jelas. Apalagi mereka terkesan ’dibuang’ dengan tanpa kesalahan.

”Tidak manusiawi. Ada banyak yang dimutasi ke sekolah yang jauh dari tempat tinggalnya,” ungkap salah satu guru di Kecamatan Mojosari yang meminta namanya tak disebut. Yang lebih membuat para guru ini menjadi dongkol, ada aroma suap dalam mutasi kali ini. Tak hanya mereka yang dimutasi, guru yang lain juga mengaku khawatir dengan kabar yang beredar jika setelah ini, siapapun akan mudah memutasi guru dengan syarat ada uang pelicin. ”Ini jadi bisa dimanfaatkan oknum-oknum tertentu untuk merubah tatanan pengajar di sekolah yang sudah baik,” tukasnya.

Sementara Kepala Bidang Ketenagaan Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Mojokerto Mujiono mengatakan, banyaknyaguru yangdimutasiiniakibat penggabungan(merger) sekolah yang menjadi program tahun 2012 lalu. Memang, tahun lalu Dindikmelakukanmergerdi106 SD dengan alasan penataan. Menurut Mujiono dari 2.381 PNS yang dimutasi, 130 orang lainnya bukan pengajar. ”Ada petugas administrasi, termasuk pembantu sekolah. Ini dilakukan karena memang merger SD beberapa waktu lalu membutuhkan penataan personil yang besar. Ini wajar,” terang Mujiono.

Soal kasus di SDN I Sooko, ia menyebut, mutasi yang dialami 12 guru di sekolah ini adalah hal yang wajar. Menurutnya, dari hasil kajian, sekolah ini memang kelebihan jumlah pengajar. tritus julan

Kamis 14 November 2013

Related News