Sumsel Kesulitan Cari Atlet Binaraga

PALEMBANG – Minimnya minat masyarakat menggeluti cabang olahraga (cabor) binaraga membuat Pengurus Provinsi Persatuan Angkat Besi, Binaraga, dan Angkat Berat (PABSI) Sumatera Selatan kesulitan mencetak atlet.

Mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menunjang olahraga ini ditengarai menjadi salah satu alasan kenapa cabor ini cukup sulit berkembang. Pelatih binaraga Sumsel Junee Wolker mengatakan, apabila melihat jumlah tempat gym di Kota Palembang yang terbilang banyak seharusnya tidak sulit untuk melahirkan atlet berbakat dan berprestasi. Namun nyatanya, dari 104 tempat gym, tak ada satu pun yang melahirkan bibit atlet angkat besi, angkat berat, ataupun binaraga.

Minimnya keberadaan atlet inilah yang akhirnya membuat ajang kejurda sangat sedikit. Akibatnya, PABSI Sumsel kesulitan mencari calon atlet masa depan Sumsel. Saat ini Sumsel hanya memiliki tiga orang atlet, yakni Ferry, Rico, dan Iyan dari kelas 55, 65, serta 70 kg. ”Padahal jika melihat jumlah tempat fitnes gym di Palembang yang sangat banyak, seharusnya tidak sulit mencari calon atlet baru.

Namun, melihat fakta yang ada, saat ini kami (Sumsel) hanya memiliki tiga atlet,” ungkapnya saat ditemui Elisya Fitness di Jalan Jenderal Sudirman Km 3,5, Palembang, kemarin. Junee Wolker menyatakan, sejak 2000 dia melatih seingatnya hanya pada 2006 pernah digelar kejurda angkat besi, angkat berat, dan binaraga di Palembang. Dia menduga minimnya minat masyarakat terhadap olahraga binaraga ini lantaran kebanyakan masyarakat cenderung lebih memilih mengikuti body contest yang sering diperlombakan baik di tingkat regional maupun nasional ketimbang binaraga.

”Masyarakat lebih cenderung memilih body contestkarena seringnya eventini dipertandingkan membuat olahraga binaraga sulit berkembang. Padahal, binaraga dan body contestitu sangat berbeda,” ungkapnya. ”Banyaknya perbedaan ini dilatari kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap binaraga. Padahal, body contesthanya menilai bagian pinggang ke atas saja, sedangkan binaraga penilaiannya mulai betis, paha, dan bentuk tubuh.

Sementara body contesthanya bentuk tubuh,” ungkapnya. Karena itu, untuk memperkenalkan binaraga ini, dia mengakui akan menggelar kejurda binaraga tahun depan untuk mencari bibit baru di cabor ini. Junee Wolker berencana tahun depan akan menggelar kejurda di Palembang. Gaya hidup melakukan fitnes dan binaraga sejatinya terdiri atas kombinasi berbagai aktivitas yang diperuntukkan bagi siapa saja sesuai kondisi masingmasing.

Aktivitas itu antara lain latihan beban, aktivitas aerobik, pengaturan makanan bergizi, serta istirahat yang cukup, di samping memerlukan biaya tinggi. Kondisi ini menjadi hal dasar minimnya masyarakat menggeluti binaraga ini. ”Terbilang cukup berat dalam menjalani kehidupan sebagai binaragawan. Keseimbangan dalam hidup dan beraktivitas merupakan faktor penting dalam keberhasilan,” ujarnya. yopie cipta raharja

Senin 11 November 2013

Related News