Pengusaha Rugi Miliaran

JAKARTA– Kemacetan lalu lintas di sekitar kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara hingga kemarin belum terurai. Kondisi ini dikeluhkan para pengusaha karena menimbulkan kerugian besar dan sudah berlangsung beberapa hari.

Ketua Dewan Pimpinan Unit Organda Angkutan Khusus Pelabuhan (Angsuspel) DKI Jakarta Gemilang Tarigan menjelaskan, kerugian akibat kemacetan lalu lintas di Pelabuhan Tanjung Priok dari tambahan biaya bahan bakar jenis solar dan uang makan awak truk ratarata mencapai Rp1 miliar per hari.

Perhitungan itu berdasarkan asumsi rata-rata terdapat 12.000 armada per hari yang bergerak melayani pelabuhan tersibuk di Indonesia itu. ”Untuk tambahan solar rata-rata setiap hari mencapai 12 liter per trailer dari biasa,” ujar Tarigan kemarin. Tarigan mengatakan, seharusnya pemerintah bisa cepat mengantisipasi hal ini. Kepadatan antrean keluar-masuk peti kemas bukan kali ini terjadi, melainkan sudah berlangsung lama.

Hanya, tingkat kepadatan lalu lintas kali ini lebih parah lantaran ada pembangunan jalan tol yang mengambil sebagian besar ruas jalan. Dengan keadaan ini, bukan hanya pengusaha angkutan pelabuhan yang dirugikan, melainkan pengirim maupun penerima barang juga terkena dampaknya. ”Harus ada perubahan signifikan terhadap pola penitipan di pelabuhan ini,” tuturnya.

Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Utara Benyamin Bukit mengatakan, pihaknya terus mencoba mengatasi kemacetan di Tanjung Priok dengan membuat sistem durasi tiap kontainer saat bongkar muat di pelabuhan. Saat ini kapasitas jalan dan pelabuhan sudah tidak memadai lagi untuk menampung arus barang. ”Sistem di dalam (pelabuhan) harus diperbaiki. Harus ada penyederhanaan sistem agar sirkulasi barang tidak stagnan, apalagi mau Lebaran, kebutuhan logistik meningkat,” tuturnya.

Benyamin mengatakan, penumpukan kendaraan juga terjadi karena penyempitan jalan akibat pembangunan akses jalan tol dan truk yang antre masuk atau keluar pelabuhan. Sementara itu, Direktur Eksekutif National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi mengatakan, pola yang diterapkan pelabuhan saat ini memang sangat lemah dan murah sebab pola yang ada yakni kawasan lahan peti kemas bisa dititipkan.

 Seharusnya peti kemas yang masuk pelabuhan hanya untuk transit, tidak untuk ditimbun sehingga tidak akan terjadi penumpukan peti kemas. Siswanto menjelaskan, sepengetahuan dirinya, saat ini peti kemas yang dititipkan di pelabuhan hanya dikenai biaya Rp50.000 per hari sehingga banyak pengusaha yang memilih menitipkan peti kemasnya hingga dua bulan lebih. ”Harus ada perubahan sistem penampungan peti kemas dan penambahan lahan agar tidak ada lagi kemacetan,” tuturnya.

Seperti diberitakan kemarin, jalur menuju Pelabuhan Tanjung Priok macet total sejak Sabtu (13/7). Kondisi ini akibat peningkatan volume ekspor dan impor peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok. Truktruk pengangkut peti kemas tersendat saat memasuki Pelabuhan Tanjung Priok yang berdampak pada kemacetan lalu lintas di kawasan sekitarnya.

Setiap hari kemacetan terjadi dari lampu merah Pintu IX Pelabuhan sampai sepanjang ruas Jalan Yos Sudarso, bahkan hingga Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Sedangkan arah sebaliknya, kemacetan hanya sampai putaran (u-turn) Plumpang, Jakarta Utara. Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto menegaskan, kemacetan di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara sudah tidak bisa dilakukan rekayasa lalu lintas lagi.

Kemacetan tersebut tidak hanya akibat kepadatan kendaraan, tapi juga pembangunan jalan tol yang membuat jalur menyempit. ”Sudah tidak bisa dilakukan rekayasa. Itu kan ada pembangunan jalan tol. Yang jelas di setiap titik kemacetan harus ada polisi yang membantu kelancaran, jangan sampai terkunci,” ungkapnya. Menurutnya, Polres Jakarta Utara juga telah menurunkan 120 personel untuk mengurai kemacetan setiap hari di kawasan pelabuhan. ●ridwansyah/ helmi syarif

Senin 11 November 2013

Related News