Eksekusi Teroris dari Jarak Dekat

Jenazah dua terduga teroris yang ditembak mati tim Densus 88 Antiteror di sebuah warung tepi Jalan Raya Pahlawan Kota Tulungagung. Jenazah sempat dibawa ke RSU Bhayangkara Kediri, sebelum dibawa ke RS Bhayangkara Polda Jatim di Surabaya, sore kemarin.

TULUNGAGUNG– Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror kemarin menggerebek empat buron teroris jaringan Poso di Kota Tulungagung .

Mereka ditembak dari jarak dekat di sebuah warung tepi Jalan Raya Pahlawan, Kelurahan Kedungwaru. Dua di antaranya tewas. Dua yang tewas teridentifikasi Dayat alias Kim dan Rizal, kedua warga Medan, Sumatera Utara. Dayat tewas setelah kepalanya tertembus peluru, sedangkan Rizal tewas dengan setelah ditembak tepat di bagian jantung.

Sementara dua terduga teroris yang tertangkap hidup adalah Mugi Hartanto, 38, warga Desa Gambiran, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung, guru honorer di Desa Gambiran, serta Sapari, 49, warga Desa Penjor, Kecamatan Pagerwojo, yang bekerja sebagai staf kesejahteraan rakyat kantor Desa Penjor.

Insiden berdarah ini terjadi sekitar pukul 08.45 WIB. Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, empat terduga teroris itu tiba di warung tersebut mengendarai sepeda motor Honda Win. Tak lama kemudian, datang dua mobil. Ada delapan orang berpakaian preman turun dari mobil mendekati warung. Setelah itu, warga mendengar empat kali tembakan. Selain dua tembakan yang menewaskan Dayat dan Rizal, ada dua tembakan lagi yang dimuntahkan dari orang-orang berpakaian preman yang ternyata tim Densus 88.

Dua tembakan itu diketahui mengenai kaki Mugi dan Sapari. Menurut keterangan Supriyanto, 42, warga setempat, tidak ada baku tembak seperti diinformasikan polisi. Salah satu teroris, kata dia, ditembak bagian kepala dari jarak sekitar satu meter. Tembakan dilepaskan salah satu dari delapan orang berpakaian preman setelah sasaran tembak berdiri dari tempatnya duduk dan bergerak ke belakang pemilik warung yang bernama Mimin.

“Jadi saat salah seorang teroris bergerak tembakan dari jarak sekitar satu meter dilepaskan ke arah kepala. Yang bersangkutan langsung ndelosor,” terangnya. Setelah tembakan itu, menurut Supriyanto, tidak ada tembakan balasan atau upaya menyerang balik. Ketiga orang yang dicurigai sebagai buron teroris tetap diam melihat satu dari mereka terkapar. Berselang tak kurang dari satu menit, tiga tembakan lain menyusul.

Satu dari tiga terduga teroris tersungkur dengan dada kiri tertembus peluru, dan dua lainnya pun tertembak di kaki, tanpa melawan. “Yang tewas tubuhnya diseret dari warung dan langsung dimasukkan ke dalam mobil. Peristiwanya berlangsung cepat, sekitar 10 menit,” jelasnya. Suara tembakan tersebut tentu saja membuat warga dan pengunjung warung sontak gaduh.

Saat itu tidak ada satupun warga yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sementara orang-orang berpakaian preman mondar mandir sambil menenteng pistol. “Kami sempat berpikir yang membawa pistol itu sebagai kawanan perampok. Pakaian mereka preman dan membentak mengusir warga untuk menjauh. Mbak Mimin (pemilik warung) diberi uang Rp30.000 sebagai pengganti ongkos makanan,” paparnya.

Namun setelah itu, Mimin yang paling dekat melihat kejadian pun diboyong tim Densus sehingga tak bisa dimintai keterangan. Bahkan polisi yang berada di lokasi tak satu pun bersedia memberikan keterangan. Bersama para terduga teroris Mimin dibawa ke Kediri sebelum akhirnya dibawa ke Polda Jatim. “Semuanya naik mobil ke utara. Kedua motor teroris ditinggal,” kata Roso, saksi lain.

Sementara itu, Kapolda Jatim Irjen Pol Unggung Cahyono menyatakan para terduga teroris terpaksa ditembak yang telah dipastikan membawa dua bom rakitan dan pistol revolver dalam tas yang mereka bawa. Telah ada indikasi kuat bahwa senjata tersebut akan digunakan untuk melawan aparat.

“Karena membawa bom dan senjata api revolver, maka kedua orang teroris itu ditembak. Sedangkan dua warga Tulungagung berperan menyembunyikan dan mengantar dua orang yang tertembak mati,” ujar Unggung yang sebelumnya sempat menolak memberi keterangan dan meminta wartawan mengonfirmasi langsung ke Mabes Polri.

Menurut Unggung, kelompok ini sudah tiga bulan berada di Jatim. Selama di Jatim, mereka tidur berpindah-pindah alias tidak menetap untuk waktu lama. Kadang menginap di SPBU atau musala. Sebelum tiba di Tulungagung, lanjut Unggung, Dayat dan Rizal sempat singgah di Surabaya, lalu ke Lamongan dan Magetan. Tidak dijelaskan apakah di Tulungagung mereka hanya singgah atau berencana melakukan aksi.

Yang pasti, kata Unggung, saat empat terduga teroris berhenti di warung makan Tulungagung, mobil Toyota Avanza silver dan mobil Isuzu Elf berisi delapan orang anggota Densus 88 sudah membuntutinya. “Anggota jaringan teroris Poso ini masuk Tulungagung sejak Sabtu (20/7),” terang Unggung.

Unggung juga mengakui bahwa pecahan peluru yang ditembakkan anggota densus 88 mengenai warga sipil yang berada di lokasi kejadian. Pantulan peluru (rekoset) bagian melukai pinggang Sujiono, 57 warga Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tulungagung yang kebetulan duduk tak jauh dari para terduga teroris. “Kita sudah tengok dan kondisinya stabil karena bukan luka parah,” ujar dia.

Sementara itu pihak RSUD dr Iskak Tulungagung masih melakukan observasi terhadap luka pada pinggang Sujiono. Hingga kini pihak rumah sakit belum melakukan pengangkatan proyektil yang bersarang di pinggul sebelah kanan. “Mungkin observasinya baru selesai besok dan akan dilanjut dengan pengangkatan,” kata Sujianto, humas RSUD dr Iskak Tulungagung. solichan arif 

Sabtu 09 November 2013

Related News