Angkutan Penyeberangan Masih Sepi

PALEMBANG – Hingga kemarin, arus angkutan di Pelabuhan 35 Ilir, masih terlihat normal, bahkan cenderung sepi. Kendati begitu, tarif angkutan penyeberangan sudah lama dinaikan.

Kepala Bidang Hubla dan ASDP Dinas Perhubungan Kota Palembang mengatakan, pemberlakuan kenaikan tarif dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No 63/- 2013 tentang Tarif Angkutan Penyeberangan Lintas Antar Provinsi. Peraturan ini dibuat akibat dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). “Tarif baru sudah kita berlakukan setelah adanya instruksi dari Kemenhub,” ujar Syafruddin.

Kenaikantarifsendiribervariasi, antara 15–20%, yang diberlakukan khusus untuk tarif angkutan saja, baik angkutan penumpang maupun kendaraan. Sementara untuk tarif terpadu lainnya berupa premi asuransi, jasa dermaga, dan tarif masuk pelabuhan masih tetap menggunakan tarif lama. “Putusan kenaikan tarifnya memang cukup mendadak,” tukasnya. Dia memastikan, kenaikan tarif ini sudah diketahui masyarakat, sebab spanduk sosialisasi penggunaan tarif baru sudah disebarkan.

“Tarif penyeberangan Ferry lebih fair dinaikkan ketika sudah ada pengumuman menteri, bukan seperti tarif angkot yang sudah naik duluan sebelum disahkan. Lagi pula, masyarakat juga sudah tahu (ada kenaikan), karena sejak BBM naik wacana tarif penyeberangan juga bakal naik. Namun besaran kenaikan saja yang belum diketahui,” urai Syafruddin. Kepala Pelabuhan 35 Ilir Palembang Ansori mengatakan, kenaikan tarif baru ini belum berdampak signifikan pada jumlah kendaraan atau masyarakat yang menggunakan jasa penyeberangan kapal Ferry.

“Saat ini, pelabuhan 35 Ilir masih mengoperasikan enam kapal Ferry untuk melayani penyeberangan Palembang–Muntok setiap hari,” tutur dia. Setiap harinya, Dishub biasanya menurunkan sembilan kapal Ferry. Namun, karena tiga kapal tengah doking (perawatan rutin tahunan), alhasil hanya enam kapal saja yang beroperasi. Meski hanya enam kapal beroperasi tidak ada kendala dalam penyeberangan, karena puncak peningkatan penyeberangan akan mulai membludak pada H-7 hingga H+7 setelah Lebaran.

“Kalau saat ini puncak angkutan Ferry didominasi kendaraan angkutan barang untuk stok Ramadan dan Lebaran, jadi jadwal penyeberangan masih normal,” ungkap Ansori seraya berharap, saat memasuki puncak mudik Lebaran, tiga kapal yang tengah doking saat ini selesai diperbaiki dan siap beroperasi. Sementara itu, Pipit, penumpang yang tengah menunggu keberangkatan kapal mengaku tidak keberatan dengan kenaikan tarif baru kapal Ferry, meski dia baru mengetahuinya saat akan membeli tiket.

“Kalau kenaikannya tidak lebih dari Rp5.000, ya tidak apa-apa. Dari pada naik pesawat, malah lebih mahal lagi,” ujarnya. yulia savitri

Minggu 10 November 2013

Related News