Analisis Fundamental Vs Teknikal

Dalam menganalisis saham, setidaknya ada dua pendekatan utama, yaitu fundamental dan teknikal. Saya sudah menuliskan mengenai masing-masing pendekatan dalam kolom ini bulan lalu.

Untuk melengkapi pemahaman Anda, saya akan menuntaskan pembahasan tentang kedua analisis ini dengan menguraikan perbedaannya secara lengkap. Analisis fundamental mengajarkan bahwa dalam berinvestasi saham kita sedapat mungkin buy low and sell high. Fundamentalis berusaha menjawab pertanyaan “why to buy”. Untuk tujuan itu, analis akan menggunakan pendekatan topdown, yaitu ekonomi, industri, dan perusahaan.

Intinya, analis ingin mencari saham bagus saat perekonomian positif dan ekspansif dari industri yang sedang bertumbuh dan prospektif. Akan lebih baik lagi jika saham bagus itu berasal dari perusahaan bagus. Di sisi lain, ada analisis teknikal dengan falsafah buy high and sell higher yang ingin memasti- kan “when to buy”.

Di mata teknikalis, sekali harga saham bergerak naik (turun) melewati batas psikologis tertentu, dia akan cenderung terus naik (turun) dan sulit untuk berhenti. Demikian juga untuk harga saham yang sedang diam, akan berpotensi diam. Ini sesuai dengan hukum Newton dalam ilmu fisika tentang kelembaman. Analisis teknikal akan mendasarkan keputusan jual-belinya hanya pada grafik, tepatnya harga dan volume.

Argumennya kurang lebih adalah harga sudah mencerminkan semua hal, termasuk sentimen investor. Jika harga sebuah saham dapat menembus batas atas atau resistance level, aksi pembelian dan volumenya tentunya sangat besar sehingga kita sebaiknya turut membeli agar dapat ikut menikmati pesta.

Investor tidak direkomendasikan membeli saat harga saham stabil karena jika kemudian harga bergerak turun, dia akan sangat menyesal dan terus berdoa dan berharap agar harga kembali ke harga belinya. Ketika harga benar-benar kembali, apalagi sampai sedikit di atas harga beli, tanpa pikir panjang lagi, investor itu akan segera menjualnya. Dia akan sangat puas karena tidak jadi merugi, walaupun tidak untung juga.

Padahal, harganya saat itu justru sedang beranjak naik. Ini disebut bias get evenitis yang melekat pada diri banyak investor sesuai yang dikatakan behavioral finance. Karena bias ini dan faktor psikologis menyaksikan harga sahamnya tertekan cukup lama, banyak investor sangat jarang mengalami keuntungan besar.

Sebaliknya, ketika harga menyentuh batas bawah atau support level, teknikalis membaca ini sebagai besarnya tekanan jual di pasar sehingga investor disarankan untuk rela melepasnya agar tidak mengalami kerugian yang lebih banyak lagi. Kedua analisis mempunyai satu kesamaan bahwa investor saham akan dapat memperoleh return yang abnormal dengan melakukan analisis. Analis fundamental percaya return lebih besar itu akan datang dalam jangka menengah atau panjang.

Sebaliknya, analis teknikal berorientasi jangka pendek bahwa return yang diharapkan itu harus datang segera dan dalam jangka pendek atau bahkan dalam hitungan hari karena sentimen investor dan sinyal pasar sudah memberikan petunjuk yang jelas mengenai pola pergerakan harga yang terjadi. Kedua analisis mempunyai kelemahan masing-masing. Analisis fundamental tidak memperhitungkan psikologi pasar atau sentimen investor.

Akibatnya, analisis ini sering gagal untuk menebak pergerakan harga dalam jangka pendek. Sementara kelemahan utama analisis teknikal adalah mengabaikan faktor ekonomi, industri, dan laporan keuangan perusahaan. Selain itu, berbeda dengan analisis fundamental dengan efek stabilisasinya yang selalu mendorong harga saham konvergen menuju nilainya terutama dalam jangka menengah dan panjang, analisis teknikal membawa serta efek destabilisasi.

Efek inilah yang membuat tingginya volatilitas saham sekaligus memberikan banyak peluang besar untuk para investor saham. Tips dari saya, analisis fundamental dan teknikal saling melengkapi. Akan lebih baik jika Anda memahami kedua analisis di atas. Maksudnya adalah ketika Anda membeli sebuah saham, baik analisis fundamental maupun analisis teknikal memang merekomendasikan keputusan itu.

Contohnya saat sebagian besar saham dijual dengan diskon pada pekan lalu, saya mencari saham bagus dalam industri yang juga bagus yang dijual dengan PER sangat rendah, jauh dari PER pasar dan PER industrinya. Saham bagus itu sedapat mungkin dari perusahaan bagus. Saya mulai mengoleksi saham-saham itu dalam jumlah secukupnya.

Saya akan membeli lebih banyak lagi ketika harga saham bergerak naik dengan volume transaksi besar. Ini akan terjadi jika sentimen investor nantinya berubah dari pesimistis menjadi optimistis. Kapan perubahan tekanan menjual menjadi animo untuk membeli ini akan terjadi? Sangat mungkin tidak dalam 2–3 bulan ini.

Yang lebih realistis, optimisme investor akan datang dengan membaiknya fundamental perekonomian kita. Saya memproyeksikan masa bullish itu akan datang lagi sekitar tahun depan setelah investor asing kembali mencari yield yang menarik untuk dananya.  BUDI FRENSIDY Perencana Keuangan & Penulis Buku “Cerdas Menghadapi Trik Bank” dan “Lihai Sebagai Investor” @BudiFrensidy

Minggu 10 November 2013

Related News