Pencipta Wayang Kancil, Ki Ledjar Subroto - Ramai di Benua Biru, Sepi di Negeri Sendiri

Usia lanjut tidak menjadi penghalang bagi sosok seniman satu ini. Ya, Ki Ledjar Subroto, 75, masih saja aktif melakoni profesinya sebagai seniman wayang.

Pria kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah yang rambutnya sudah memutih ini tidak hanya menjadi dalang wayang di Indonesia, namun sudah berkeliling ke negara-negara Eropa. Ditemui di rumahnya Jalan Mataram, Yogyakarta, pencipta wayang kancil ini bercerita banyak tentang pengalamannya. Berikut petikan wawancara dengan KORAN SINDO.

Lama tak terdengar kabarnya, apa kesibukan Mbah Ledjar akhir-akhir ini?

Kesibukannya banyak sekali. Terutama persiapan-persiapan wayang yang akan dipentaskan di Belanda. Seperti wayang kancil, wayang tentang sejarah, dari mulai membuatnya sampai pentasnya.

Contohnya seperti apa Mbah?

Seumpamanya sejarah revolusi, membuat tokoh-tokoh revolusinya. Terus, wayang kancil yang memang tentang wayang kancilnya mengangkat potensi ini.

Bisa dijelaskan potensi wayang kancil?

Wayang kancil itu saya buat sebagai jembatan kembali, supaya anak-anak kenal budaya wayang lewat dongeng-dongeng anak yang sudah ada kemudian saya buat wayang. Tapi, akhirnya malah disenangi negara lain, khususnya Eropa. Maka, di sana juga dijadikan pendidikan untuk anak-anak, bahkan di Inggris sudah dijadikan kurikulum untuk SD (Sekolah Dasar).

Bagaimana Anda berhubungan dengan orang-orang di luar (Eropa), untuk mementaskan wayang?

Murid-murid saya banyak, ada di Inggris, Amerika (AS), Jerman, dan Belanda. Ini para pecinta, penggemar-penggemar (wayang kancil) itu membuat program dengan mendatangkan saya setiap tahun.

Sejauhmana mereka menggemari wayang ini?

Wayang itu, mereka koleksi ke museummuseum. Seperti, di Museum Horn, di Kota Horn, Museum Leiden, Belanda, dan lainnya masih banyak.

Apa yang membuat negara-negara di Eropa itu semakin tertarik (dengan wayang) mbah?

Belanda tertarik juga karena (dalam wayang itu) ada sejarah berdirinya Belanda waktu masih dijajah Spanyol. Waktu itu belum terwujud suatu negara yang dipimpin oleh Wiliem Van Oranje, yaitu tokoh yang ada di Kota Delphi. Tahun ini, membuat sejarah penangkapan Diponegoro, juga termasuk sejarah Indonesia-Belanda dan dipentaskan di sana (Belanda).

Program-program yang berjalan di negara Eropa itu sejak kapan?

Itu baru sejak 2008. Awalnya membawa misi wayang kancil. Kemudian berkembang wayang-wayang sejarah. Sekarang sudah dikoleksi, murid-murid ada yang ke sini (Yogyakarta) untuk belajar. Seperti dari Jerman, Inggris, (mereka mahasiswa) membuat skripsinya untuk dalang, dan sampai pentasnya pentas belajar di sini.

Sering pentas di Eropa ini, apa ada kaitannya dengan bangsa sendiri?

Justru itu. Banyak keluhan-keluhan saya, karena keberangkatan saya ini tidak ada kaitannya dengan pemerintah. Langsung dari kelompok-kelompok di sana (Eropa), mereka mengundang sendiri. Ternyata, Indonesia cara memperhatikannya masih terbatas sekali.

Maksudnya Mbah?

Secara tidak langsung saya kansudah membawa misi nama Yogyakarta, Indonesia, kemudian mengembangkan budaya kita di sana, dan diterima budaya tentang pewayangan. Justru di negeri sendiri ini, sekarang sedang saya rasakan mengkhawatirkan tentang budaya seni wayang. Di sana (Eropa) jelas digunakan untuk misi pendidikan, informasi komunikasi dan kesenian, dan disenangi oleh masyarakat dan anakanak. Sementara di negara Indonesia, hanya sebatas, oh wayang kancil toh, hanya itu.

Contohnya?

Umpamanya, ada orang Jepang datang ke Yogyakarta untuk liburan. Kemudian tanya, ada pentas di mana pak? Untuk menjawab saja saya sudah mempunyai rasa bagaimana ya (tidak enak).

Kenapa bisa begitu?

Di sini (Indonesia) itu bisa pentas kalau ada yang nanggap, kalau tidak ya tidak pernah ada pentas. Karena tidak pernah diberikan fasilitas dari pihak terkait itu. Budaya kita ini tidak hanya pada wayang kancil, tapi bagi pelaku seni ini kesulitan untuk menjawab orang yang tanya waktu kapan pentasnya, entah itu wayang purwo, wayang kancil, ketoprak, dan lain sebagainya. Kalau tidak ada acara-acara khusus atau yang mengundang kasarane (istilahnya) nanggap. Ini kan memprihatinkan bagi kita, apalagi anak-anak sekarang ini juga banyak yang tidak tahu (wayang).

Alasannya apa?

Alasannya, karena bahasa Jawa saja sudah terbatas sekali untuk anak-anak, mana bisa tahu budaya kita pewayangan. Budaya wayang, budaya tradisional kan menggunakan bahasa daerah khususnya di Jawa. Apakah ini tidak memprihatinkan? Masyarakat sekarang kecintaannya kepada budaya wayang juga menurun, seolaholah tidak terlalu memperhatikan kalau ini budaya kita, budaya bangsa.

Di sisi lain, saya yang setelah ke negara lain ternyata budaya wayang sangat digunakan dan diperhatikan. Tapi, karena saya ini tidak tergantung kepada siapa-siapa, yang penting saya sudah membawakan misi bagaimana budaya wayang tetap menjadi budaya kita. Biarpun disenangi negara lain, tapi ini adalah budaya bangsa. Tetap kita kembangkan, kita lestarikan, kita uri-uri (jaga), kita pelajari, dan kalau bisa kita berikan kepada generasi kalau masih ada kemauan.

Bagaimana bisa melihat kecintaan masyarakat (terhadap wayang) sekarang menurun?

Seperti, tentang budaya wayang yang biasanya ada bersih desa terus wayangan, sekarang sudah tidak ada. Orang melihat kesenian wayang itu bisa dilihat secara langsung. Seperti hanya terbatas sekali. Tidak memperhatikan isi (cerita wayang) itu apa, dia hanya menunggu, hura-hura habis semuanya, terus pergi. Inilah yang membuat prihatin saya.

Kalau di Belanda, bagaimana mereka tertarik dengan pewayangan?

Kita buatkan wayang revolusi untuk mengingat para pejuangnya. Biar di sini (Indonesia) penjajah, tapi di sana (Belanda) dihargai sebagai pahlawan. Mengapa? karena menjajah itu untuk kesejahteraan negaranya. Anak sebagai generasi saat ini, diperlihatkan, ini lhonenek moyang kamu dulu, waktu berjuang untuk mencari kesejahteraan sebagai negara yang menjajah, khususnya di Indonesia. Tapi, sekarang diminta untuk bentuk wayang. Jadi, menyalurkan pendidikan menggunakan media wayang.

Bagaimana cara menyampaikannya Mbah?

Ndalang pakai bahasa Indonesia biasa, sudah ada penerjemah. Kemudian, saya bergantian dengan cucu, di sana ditulis nashkahnya. Seperti, sejarah berdirinya Belanda, dan saat perjuangan perebutan mendirikan negara yang dilakukan Wiliem Van Oranje.

Dapat dari mana naskah atau lakon itu?

Saya diajak untuk komunikasi dengan penonton dan yang kompeten untuk informasi tentang budaya. Kemudian, diajak ke museum, foto-fotonya, bukunya, sejarah perang. Mau tidak mau, saya belajar dan betul-betuk saya nikmati.

Kalau untuk wayang kancil sendiri, wayangnya siapa saja?

Ada buaya, gajah, pohon timun, harimau, kancil, ada kurungannya juga untuk menangkap. Cerita kancil merupakan karya dari pujangga dalam Serat Kancil. Kancil ini tokoh yang berguna, tapi kokjadi cemoohan. Di negeri sendiri, kancil yang diambil hanya negatifnya saja, hanya nyolong (mencuri) ketimun. Kancil itu sangat berguna. Pertunjukan wayang kancil itu, saya juga ingin mengamankan penulis novel (cerita)-nya. Sekarang contohnya, hidup kita tertipu tidak, kecurian tidak. Banyak korupsi, dan sebagainya.

Belum lagi alam. Justru sekarang, kita dalam lingkungan (cerita kancil) ini. Kita hanya melihat komentar-komentar di televisi, tapi kenyataannya tidak ada. Kehidupan kita hanya disaguhi (sanggupi), hanya berusaha menyenangkan, memperkaya diri sendiri, kenyataannya? Tertipu tho, jelas kita kecurian macammacam. Ini kalau dipahami betul.

Jadi, bagaimana cara kancil memberikan pelajaran?

Kemarin, saya tampil di Yogya, disaksikan para tokoh. Kemudian, diberikan judul, wayang kancil sebagai media edukasi untuk lingkungan. Umpamanya, dalam cerita seekor buaya sedang tertimpa pohon di sungai. Kemudian, kerbau datang, diminta untuk memindahkan kayu (pohon). Sesudahnya, buaya itu belum puas, dan minta untuk digendong ke tengah sungai, masuk ke sungai. Setelah masuk ke sungai, turun, kemudian buaya berkata, “Tidak hanya begitu saja menolong, saya lapar”. Lalu, buaya itu minta punuknya kerbau untuk dimakan. Berarti pelajarannya, air susu dibalas air tuba.

Harapannya Mbah terhadap warga tentang wayang apa?

Yang saya harapkan, masyarakat bisa tahu apa tema (saat ada pentas wayang) itu. Piagam kanhanya untuk saya saja, masyarakat dapat apanya. Kalau tidak tahu, tidak ada gunanya. ridho hidayat

Jumat 08 November 2013

Related News