HUT KE-257 KOTA YOGYA - Sultan Kembalikan Bulu Bekti

Penari membawakan tari kolosal yang menceritakan Yogyakarta dulu, kini, dan akan datang di Pagelaran Keraton Yogyakarta, kemarin. Tarian itu digelar di sela-sela acara pisowanan agung yang dihadiri Raja Keraton Yogyakarta yang juga Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X sebagai puncak peringatan hari ulang tahun ke-257 Kota Yogyakarta.

YOGYAKARTA – Puncak acara HUT ke-257 Kota Yogyakarta kemarin sore berlangsung sangat meriah. Persis seperti yang dijanjikan oleh Pemkot Yogyakarta.

Puluhan ribu warga kota tumplek blek di jalanan dan Alun -alun utara untuk mengikuti prosesi acara yang dikemas dalam Pisowanan Agung. Raja Keraton Yogyakarta Sri SultanHamengkuBuwono(HB) X dalam sabdatama di depan ribuan warga menyampaikan apresiasi atas perayaan hari ulang tahun (HUT) yang dikemas dalam format Pesta Rakyat Yogya. Sultan juga mengapresiasi langkah pemkot melibatkan seni kriya melalui pameran seni instalasi di sepanjang Malioboro.

“Saya mengapresiasi pemerintah kota karena turut melibatkan masyarakat dalam perayaan HUT melalui Pekan Rakyat Yogya. Kehadiran seni kriya melalui instalasi luar ruang memberi nuansa yang sangat baik,” ucap Sultan. Sultan menjelaskan sebagai raja, dirinya menerima bulu bekti (semacam upeti) yang diserahkan pada kesempatan tersebut. Namun di era modern dan sebagai pejabat publik, menerima bulu bekti dapat dikategorikan sebagai gratifikasi.

Karena itu, Sultan memilih menyerahkan kepada wali kota untuk mengelola bulu bekti tersebut. “Bulu bekti saya terima, tapi silakan Pak Wali Kota bagaimana kebijaksanaannya untuk mengelola itu. Di zaman modern ini, menerima bulu bekti bisa dikategorikan sebagai gratifikasi,” kata Sultan. Pada kesempatan itu, yang menyerahkan bulu bekti adalah Wakil Wali Kota Yogyakarta Imam Priyono.

Ulubekti atau seserahan ke Sultan itu berupa jajan pasar, kelapa, dan burung merpati. Imam yang mengenakan pakaian tradisional Yogyakarta itu berharap HUT tahun ini dapat dijadikan sebagai tonggak pembangunan kota yang lebih baik lagi. Sultan yang datang dengan setelan jas lengkap berharap HUT kota ini bisa berkembang sebagai kota yang humanis. “Pembangunan fisik pada era modern seperti saat ini memang tidak bisa dielakkan. Namun, pembangunan tidak boleh dilakukan dengan menggeser ruang-ruang publik yang ada,” katanya.

Pembangunan yang dilakukan dengan orientasi material semata justru akan menimbulkan “kekosongan” di tengah masyarakat. Sebab, warga tidak akan bisa saling berinteraksi. “Pembangunan harus dikembalikan ke arah yang benar sehingga tercipta karakter kota yang humanis. Prosesnya boleh jadi sangat panjang. Namun harus tetap dilakukan bukan justru berhenti,” katanya. Sebelum Pisowanan Agung, acara perayaan puncak HUT Kota Yogyakarta diawali dengan pawai dan atraksi budaya.

Pawai dimulai dari Ambarketawang, Gamping sebagai simbol pemindahan keluarga HB I dari Ambarketawang ke Yogyakarta. Momen tersebut sekaligus menjadi awal berdirinya Kota Yogyakarta. Pawai kemarin juga diikuti bregodo dari Keraton Yogyakarta yang meliputi prajurit Keraton Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Jagakarya, Prawiratama, Ketanggung, Mantrijero, Nyutra, Bugis, dan Surakarsa.

Dari Pura Pakualaman tampil prajurit Plangkir dan Lombok Abang. Kemudian tampil pula perwakilan 45 kelurahan yang membawa berbagai ciri khas daerahnya seperti bakpia dan lainnya. Pada puncak acara juga digelar tarian kolosal Bumi Ngayogyakarto oleh para seniman Yogyakarta. Tari kolosal terdiri dari traditional artdan kontemporer dengan tema Yogya Tempo Dulu dan Sekarang.

Tampil pula atraksi layang-layang HUT di alunalun yang sama. Wijaya, 30, salah satu warga merasa terhibur dengan kegiatan perayaan ini. Meski tidak ikut pawai, tapi dia cukup antusias melihat rekannya yang lain ambil bagian dalam acara. “Saya penonton saja,” ucapnya. ● sodik/ant

Senin 11 November 2013

Related News