Ikan Saja Masih Impor

Sebagian besar wilayah Indonesia merupakan perairan. Garis pantai sepanjang 95.181 km atau yang terpanjang keempat di dunia belum membuat Indonesia bisa menyuplai kebutuhan ikan sendiri, tragis!

Luas perairan Indonesia belum membuat Indonesia terbesar impor. Walaupun kini jumlah ekspor meningkat, impor membuat sejumlah kerugian bagi masyarakat Indonesia, khususnya nelayan. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), nilai ekspor hasil perikanan Indonesia pada 2012 sebesar USD3,9 miliar. Sedangkan impor 2012 sebesar USD412,3 juta. Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Abdul Halim menyayangkan Indonesia masih mengimpor ikan.

Menurutnya, Indonesia sebenarnya tidak perlu ekspor selama kebutuhan dalam negeri masih belum tercukupi. Kebutuhan perikanan dalam negeri bisa dipenuhi tanpa harus mengimpor. Jumlah ekspor ikan bisa ditutupi pengendalian atau peniadaan ekspor. “Ekspor yang dilakukan pemerintah secara tidak langsung membuka kran impor. Padahal dengan manajemen yang baik kita tidak perlu impor,” kata Halim kepada KORAN SINDO. Halim optimistis kebutuhan impor tertutupi karena produksi ikan Indonesia selalu meningkat. Pada 1991 produksi masih sebesar 2,8 juta.

Angka ini meningkat tajam pada 2012 yang mencapai 15,8 juta. Ironisnya, impor yang dilakukan pemerintah justru terjadi pada ikanikan yang sebenarnya bisa diproduksi atau ditangkap di Indonesia seperti tuna, cakalang, tongkol, kembung, dan udang. Ini juga berakibat pada harga tangkapan nelayan kalah bersaing dengan ikan impor sehingga secara langsung berdampak pada penghasilan para nelayan. Mereka tidak bisa menutupi biaya produksi dengan hasil yang diperoleh. Sebagai contoh, ikan kembung lokal seharga Rp22.000 per kilogram.

Sementara harga impor hanya Rp5.000 per kilogram. “Kualitas ikan impor belum terjamin. Ikan impor tidak segar dan tidak ada jaminan bahwa ikan tersebut terbebas dari bahan pengawet seperti boraks dan lainnya,” tambah Halim. KKPselalumenargetkanproduksiikan tumbuh. Tahun depan KKP menargetkan produksi sebesar 20,05 juta ton, terdiri atas perikanan tangkap sebesar 6,08 juta ton dan perikanan budi daya sebesar 13,97 juta ton.

“Komoditas udang dan tuna masih menjadi tumpuan untuk target produksi. KKP juga menargetkan pencapaian angka pertumbuhan PDB perikanan 2014 sebesar 7,25% atau naik 0,77% dari tahun sebelumnya,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo dalam rilisnya ke KORAN SINDO(18/10). Target tersebut tidak terlepas dari pencapaian positif target 2013. Apalagi, program industrialisasi kelautan dan perikanan dengan pendekatan blue economyyang dicanangkan KKP menunjukkan perkembangan positif.

Tercatat, nilai ekspor perikanan semester I/2013 mencapai USD1,97 juta dengan volume 621,7 ribu ton. Data ini menunjukkan terjadi kenaikan produksi ikan 4,2% dan untuk volume perdagangan naik 5,3%. Komoditas udang masih menjadi primadona ekspor dengan menyumbang 36,7% atau USD723,6 juta. Sedangkan negara tujuan ekspor masih tertuju pada negara AS, Jepang, Uni Eropa, dan China. “Dari data ini, nilai perdagangan produk perikanan surplus 1,78 miliar dolar atau naik 3,5% dari tahun sebelumnya,” kata Sharif.

Pada 2014 KKP akan fokus pada pelaksanaan industrialisasi kelautan dan perikanan dengan pendekatan blue economy melalui peningkatan nilai tambah dan sinergi hulu-hilir usaha ekonomi kelautan dan perikanan. Program ini berbasis pada komoditas, kawasan, serta pembenahan sistem dan manajemen.

Untuk program pengembangan kawasan Minapolitan, KKP akan melakukan evaluasi kegiatan Minapolitan dan tindak lanjut percepatan pengembangannya melalui strategi industrialisasi. ●islahuddin

Minggu 10 November 2013

Related News