Memuliakan Buku

Buku telah dimartabatkan dengan berbagai laku. Mulai dari membeli, membaca, hingga merawatnya. Lebih dari itu, buku dimuliakan dengan telaah yang diniatkan sebagai tinjauan atau timbangan isi buku.

Maka, resensi (book review) pun dihadirkan bukan sekadar atas hajat memapar isi buku. Resensi sekaligus diniatkan untuk memekarkan diskursus yang diusung oleh buku dengan cara pembubuhan kritik dan komentar. Kritik sendiri bukan semata- mata maujud sebagai bantahan atas isi buku. Namun, juga pendalaman wacana sehingga mengarak gagasan buku memasuki ”dunia luar”: intertekstualitas atau kontinuitas gagasan, serta kontekstualitas dengan masyarakat (pembaca).

Buku seolah tubuh terbuka yang tak kalis sanjungan, debatan, bahkan celaan. Media massa seperti koran dan majalah memberikan ruang yang cukup lapang bagi berbiaknya tradisi meresensi buku. Kerja media menyajikan informasi dan edukasi tentang buku disambut bergairah oleh para kritikus buku atau peresensi. Apresiasi yang diberikan koran atau majalah kepada para kritikus buku atau peresensi diangsurkan dalam bentuk honorarium yang sedikit banyak memberikan topangan finansial.

Penerbit buku pun memanjakan mereka dan menghibahkan buku-buku terbitan terbarunya. Pelbagai kemurahan itu menjelma sebagai berkah sekaligus tulah (petaka) bagi dunia resensi hari ini. Petaka itu tak lain tergelincirnya resensi sebagai ajang memproduksi informasi tentang buku dengan pemaparan yang persuasif atau promotif belaka. Sementara, isi buku kalis dari sentuhan kritik atau telaah untuk membedah ”kepincangan”nya sehingga menjebak kerja resensi sebagai narasi pengunggulan buku.

Pujian tentu diizinkan, tetapi tanpa menutupi ”kecacatan” yang ditemukan di dalam buku. Sebab, resensi bukan iklan untuk ”menjual kucing di dalam karung”. Jane Ciabattari, penggiat National Book Critics Circle di Amerika, m e n u l i s k a n laporan bertajuk The Future of Book Reviews: Critics vs Amazon Reviewers (www. th e d a i l y b e a s t . com, 12/05/2011). Tulisan itu memuat pandangan pengarang Morris Dickstein, yang menyerang para peresensi Amazon.

Menurut Dickstein, saat ini peresensi profesional yang memiliki identitas sastra dan menguasai ketentuan standar dari editor, telah tergantikan oleh peresensi Amazon yang lebih sering dangkal, tumpul, dan kosong pendirian. Peresensi Amazon, dalam konteks perbukuan dunia hari ini, adalah cakupan kategori peresensi yang meniatkan tulisan untuk mempromosikan buku demi penjualan sebagaimana resensi yang dipajang di toko-toko buku online.

Tak bisa dinafikan, resensi di Indonesia pun tergelincir pada pamrih menarik pembeli atau menyarankan buku apa yang perlu dibaca. Dickstein mencela peresensi jenis ini hanyalah memaparkan pendapat mentah, tidak peduli kedalaman perasaan dan tidak menggantikan argumen dengan bukti. ”Demokratisasi meresensi ini serupa dengan pembusukan,” katanya. Belakangan ini saya menemukan paparan tips meresensi yang terasa ironis. Sebuah blog membeberkan trik-trik yang cukup ”rahasia” agar resensi dapat dimuat di satu koran tertentu—yang hampir setiap hari menyediakan rubrik resensi dan berhonor cukup tinggi.

Peresensi disarankan mencari buku terbitan baru di berbagai situs toko buku lalu mengumpulkan sebanyak mungkin data yang terkait buku, mungkin ulasan atau sinopsis yang telah ada, untuk bahan utama resensi. Dengan begitu, peresensi tidak perlu memegang buku dan membaca isinya, kecuali mengolah bahan-bahan yang didapatkan cuma-cuma. Sampul buku disiasati dengan mengunduh dari internet pula.

Apakah laku demikian bisa dikatakan memuliakan buku? Karib saya pernah berseloroh tentang resensi yang ”memartabatkan” (baca: mengunggulkan secara semu) buku. Pasalnya, paparan resensi jauh lebih baik ketimbang isi buku yang diresensi. Di samping itu, buku yang kurang mutu sekonyong- konyong terangkat derajatnya ketika resensi tentangnya muncul di media massa.

Di tengah derasnya produksi buku dengan tema, bahkan isi, yang nyaris seragam, resensi perlu diproduksi sebagai kritik yang secara jujur memberi penilaian terhadap buku. Pembandingan bukubuku pun tidak ditabukan agar penulis dan penerbit senantiasa mawas diri untuk memproduksi buku dengan kualitas mumpuni. Peran peresensi bukanlah corong bagi penerbit, sebaliknya jembatan yang mampu menghubungkan buku dengan masyarakat (calon pembaca).

Kritikus buku atau peresensi berperan sebagai penimbang isi buku, sekaligus penganjur bukubuku yang perlu dibaca khalayak. Meski, pada akhirnya sidang pembaca yang sepenuhnya kuasa memberikan nilai atau kebermaknaan suatu buku. 

MUSYAFAK
Essais, Staf di Balai Litbang Agama Semarang

Selasa 19 November 2013

Related News