Siswi Penyimpan Bayi Diminta Cuti 3 Bulan

BANTUL– Untuk membina siswi SMA di Pudong, Bantul yang diketahui melahirkan bayi di luar nikah dan menyembunyikannya di dalam lemari, yakni M, Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bantul berlaku bijak.

Disdik memberi cuti kepada yang bersangkutan selama tiga bulan. Pemberian cuti agar siswi ini lebih berkonsentrasi mengurus bayinya. “Kami telah memberikan rekomendasi kepada sekolah, siswi tersebut diberi cuti.” “Ini demi kepentingan perawatan usai melahirkan dan demi kesehatan bayi,” tutur Kepala Bidang Pendidikan Menengah Atas (Dikmentas) Kabupaten Bantul Suhirman kemarin.

Meski merekomendasikan cuti, pihaknya juga tidak akan melarang kalau nantinya siswi itu ingin tetap masuk sekolah. Baik dengan pendampingan dari pemerhati pendidikan maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM). Kebijakan ini Disdik lakukan karena sebenarnyapihak Dinas Pendidikan Menengah dan Non Formal (Dikmenof) tetap mendorong siswi tersebut menyelesaikan pendidikannya. “Ini pembinaan lho, bukan skorsing,” tandasnya.

Anggota Komisi D DPRD Bantul Jupriyanto mengutarakan siswi tersebut harus tetap mendapatkan haknya untuk memperoleh pendidikan. M tetap bisa pergi ke sekolah karena tidak ada aturan yang melarang siswa bersekolah meski sudah melahirkan. Selama ini, lanjut dia, larangan bersekolah hanya diberikan kepada siswa atau siswi yang telah menikah.

Sementara siswi yang melahirkan ini statusnya belum menikah dan usianya masih di bawah 17 tahun. Namun itu semua tentu kembali kepada M. Apakah anak tersebut masih bersedia bersekolah atau tidak. Jika tidak ingin kembali ke sekolahnya, maka dia bisa mengambil kesetaraan di PKBM yang banyak tersebar di Bantul. “Jika siswi itu masih bersedia ingin melanjutkan di sekolahnya maka tidak boleh dilarang. Tapi jika merasa kurang nyaman, bisa mengambil jalur lain seperti Paket C atau PKBM yang cukup banyak di Bantul,” kata politikus PKS ini.

Di samping itu, pihaknya juga mendukung upaya dari Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit Panembahan Senopati yang mengurus bayi malang tersebut. Pihaknya tetap berharap upaya keduanya diteruskan hingga bayi malang itu sudah sehat dan normal untuk diasuh ibunya. “Di luar tugas polisi untuk melakukan pendalaman kasus, kejadian ini cukup memprihatinkan bagi citra pendidikan di Bantul. Bisa jadi ini adalah warning yang mungkin masih banyak kejadian serupa tapi tidak terungkap,” tuturnya.

Kanitreskrim Polsek Pundong Bripka Winardi mengatakan, pihaknya tidak menahan siswi yang melahirkan tersebut karena tidak ada unsur kriminalitas. Bahkan dari hasil penyelidikan tidak ada unsur penelantaran anak, bayi tersebut dirawat seperti pada umumnya.

“Karena di rumah tersebut tidak ada orang lain, sementara siswi itu harus berangkat sekolah, maka bayi tersebut disimpan dalam almari. Itu dirawat dengan baik, karena orang tidak mampu yaseperti itu. Jadi tidak ada unsur penelantaran. Kecuali kalau kemarin bayinya sampai meninggal,” katanya.

Dari hasil penyelidikan sementara, polisi juga menemukan pesan singkat pada ponsel siswi itu yang dikirim dari kekasihnya. Saat itu, kata Winardi, usai bayi dilahirkan pada Selasa (19/11) lalu, diminta agar diletakkan di belakang rumah orang tua laki-laki. “Maksudnya supaya bayi itu ditemukan oleh keluarga lakilakinya. Tapi perempuannya ga mau karena khawatir terjadi sesuatu pada bayinya,” ucapnya.

Dia mengungkapkan saat ini kekasih perempuan itu sedang bekerja di sebuah pabrik di Mojokerto, Jawa Timur. Laki- laki itu juga telah bersedia bertanggungjawab dan akan pulang ke Pundong secepatnya.

“Dari kesepakatan kedua keluarga, mereka sepakat untuk menikahkannya. Dari laki-lakinya malah berkeinginan mengambil bayinya, kemudian meminta supaya perempuan itu fokus ke sekolah. Jadi gaada masalah,” katanya. erfanto linangkung


Sabtu 23 November 2013

Related News