Prospek Dan Tantangan Ekonomi Di 2014

Global growth is still weak, its underlying dynamics are changing, and the risks to the forecast remain to the downside” ……IMF-World Economic Outlook, Oct 2013. Pernyataan Dana Moneter Internasional (IMF) ini mengindikasikan perkembangan ekonomi global masih rentan.

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global di 2014 akan mencapai 3,6% dari 2,9% di tahun 2013. Bahkan World Bank dan OECD juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi di negara maju di tahun 2014 akan mencapai 2,1% dan 2,3%, lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan di 2013 yang hanya 1,3% dan 1,2%. Bahkan di masa mendatang diperkirakan pendorong pertumbuhan ekonomi global akan lebih berasal dari ekonomi maju, sementara pertumbuhan ekonomi negara berkembang (emerging countries) diperkirakan melambat dalam lima tahun mendatang, seiring dengan melambatnya perekonomian China dan India.

Kendati demikian down-side risk dari perkembangan ekonomi global masih tetap tinggi, khususnya di kawasan zona euro di mana pengangguran masih sangat tinggi di 12,2%, beban utang pemerintah juga masih sangat tinggi, jauh di atas batas aman 60% dari produk domestik bruto (PDB). Hal ini menyebabkan lembaga pemeringkat internasional terus menurunkan peringkat beberapa negara di kawasan itu, di antaranya yang terakhir di-down gradeadalah Prancis, menjadi AA dari sebelumnya AA+.

Risiko lainnya adalah terkait dengan kebijakan tapering off atau kebijakan pengurangan stimulus moneter yang akan dilakukan oleh negara maju seiring dengan membaiknya perekonomian mereka. Negara maju yang diperkirakan melakukan tapering off pertama kali adalah Amerika Serikat (AS) di awal kuartal I/ 2014. Implikasi dari kebijakan ini adalah likuiditas dolar akan berkurang sehingga dapat mengganggu stabilitas sektor keuangan dan juga menekan pemulihan ekonomi yang terjadi di negara maju tersebut.

Implikasi dari membaiknya perekonomian negara maju, melambatnya pertumbuhan ekonomi negara berkembang dan berkurangnya likuiditas global adalah berkurangnya aliran modal ke negara berkembang secara keseluruhan. Akibatnya persaingan dalam memperebutkan aliran modal akan semakin ketat. Dalam hal ini kata kunci yang akan menjadi perhatian bersama bagi negara berkembang adalah meningkatkan daya saing. Bagaimana dengan prospek ekonomi Indonesia?

Laporan terakhir yang dikeluarkan oleh Organization for Economic and Development (OECD) di bulan Oktober yang lalu memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tumbuh dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 6% selama periode 2014–2018. Pertumbuhan ini merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan peers-nya di kawasan ASEAN, seperti Filipina yang diperkirakan tumbuh 5,8%, Malaysia 5,1%, Thailand 4,9%, dan Singapura yang diperkirakan tumbuh 3,1%.

Namun, jika dibandingkan dengan prediksi yang dibuat setahun sebelumnya, prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami koreksi cukup dalam, yaitu 0,4 poin, dari 6,4% menjadi 6%. Bahkan World Bank dalam laporan terakhirnya di kuartal III/ 2013 merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2014 menjadi hanya 5,3% dari prediksi sebelumnya 6,5%. Sementara Bank Mandiri pun juga merevisi pertumbuhan ekonomi 2014 menjadi 5,6% dari sebelumnya 5,9%.

Hal ini ditunjukkan dengan Mandiri Leading Economic Index (MLEI) yang masih dalam tren penurunan sejak awal tahun 2013, sehingga mengindikasikan bahwa perekonomian masih dalam tren perlambatan hingga pertengahan 2014. Revisi yang terjadi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia tentunya tidak terlepas dari masih adanya downside riskdari kondisi ekonomi global, namun juga disebabkan karena masih banyaknya masalah internal yang menahan laju pertumbuhan ekonomi.

Beberapa tantangan domestik tersebut di antaranya adalah: Defisit neraca transaksi berjalan yang diperkirakan masih tinggi di 2014. Minimnya kebijakan pemerintah di sektor migas menyebabkan masih tingginya risiko di sektor ini. Kebijakan konversi biodiesel dalam campuran solar harus terus didukung dan bahkan mandatorykonversinya dapat ditingkatkan dari 10% menjadi 20% atau lebih agar impor solar dapat ditekan, sehingga mengurangi defisit neraca perdagangan yang hingga Januari-Oktober 2013 mencapai sekitar USD6,2 miliar.

Belum optimalnya pengembangan industri pengolahan juga menjadi kunci kebijakan strategis untuk mengurangi defisit neraca transaksi berjalan. Bayangkan sekitar 76% dari impor bersifat bahan baku. Seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat, maka kebutuhan akan barang-barang hasil industri juga meningkat. Sayangnya industri pengolahan kita tidak siap untuk menghadapi permintaan yang naik pesat tiga tahun belakangan ini. Kebijakan pemerintah dengan pemberian insentif untuk industri strategis yang bersifat ”substitusi impor” dan ”promosi ekspor” harus terus secara intensif dan berkesinambungan menjadi prioritas.

Dalam konteks kebijakan penanaman modal, pemerintah harus bisa menekan investor asing yang akan berinvestasi ke Indonesia tidak hanya memanfaatkan negara ini sebagai pasar, namun juga menempatkannya sebagai bagian dalam global production networkmereka. Dengan begitu, tidak hanya akan mengurangi ketergantungan impor bahan baku di masa datang, Indonesia pun dapat menikmati benefitpada saat pemulihan permintaan global terjadi. Pekerjaan rumah lainnya adalah diversifikasi produk ekspor yang saat ini didominasi oleh komoditas (62% dari total ekspor).

Akibatnya pada saat permintaan global membaik dampaknya terhadap ekspor kita tidak akan terlalu signifikan, karena sifat dari permintaan global terhadap komoditas yang bersifat inelastis. Hal lain yang perlu menjadi perhatian pemerintah adalah meningkatkan stabilitas pasar keuangan kita. Dangkalnya pasar keuangan kita, khususnya pasar modal dan pasar valuta asing menyebabkan Indonesia sangat rentan terhadap gejolak di keuangan global.

Lebih parah lagi apabila kita melihat volume transaksi valuta asing (valas) di pasar, yang dalam 10 tahun terakhir ini tidak mengalami peningkatan secara berarti, yaitu hanya sekitar USD1,9-2,2 miliar per hari. Padahal, kebutuhan valas (USD) untuk kegiatan impor dalam 10 tahun ini meningkat pesat, yaitu dari ratarata USD4 miliar per bulan di 2002 menjadi USD15 miliar di 2012. Oleh karena itu upaya BI dan pemerintah untuk meningkatkan kedalaman pasar valas patut diapresiasi dan perlu ditambah di masa datang.

Hal lain yang dapat dilakukan oleh BI dan pemerintah dalam meningkatkan suplai valas adalah mewajibkan eksportir untuk menempatkan dana hasil ekspornya ke perbankan domestik. Kebijakan di pasar valas ini tentunya dapat membantu mengurangi fluktuasi di nilai tukar rupiah, yang saat ini sudah terdepresiasi hingga sekitar 24%. Tantangan selanjutnya adalah berkaitan dengan peningkatan produktivitas tenaga kerja.

Bonus demografi yang dimiliki Indonesia yang dicerminkan dengan berlimpahnya penduduk usia produktif hingga 2030, jika tidak diimbangi dengan peningkatan pendidikan, produktivitas sekaligus penciptaan lapangan pekerjaan yang memadai, hanya akan mendorong tingginya angka pengangguran. Data angkatan tenaga kerja Indonesia saat ini yang berjumlah 118 juta jiwa menunjukkan bahwa 67% di antaranya ternyata berpendidikan SMP ke bawah, sementara yang lulusan tingkat akademi/universitas hanya 7%. Implikasinya adalah keterbatasan skill tenaga kerja kita.

Terlepas dari beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh Indonesia, dengan potensi besar yang dimilikinya maka saya melihat prospek pertumbuhan ekonomi di tahun 2014 masih cukup cerah. Perekonomian diperkirakan masih akan tumbuh 5,6%, dengan tingkat inflasi yang terkendali di tingkat 5,3%. Namun, downside riskmasih akan tinggi, khususnya apabila pekerjaan rumah tersebut di atas tidak diselesaikan dengan baik oleh pemerintah, dan juga apabila fluktuasi nilai tukar tidak dapat ditangani dengan baik. 

DESTRY DAMAYANTI
Kepala Ekonom Bank Mandiri

Senin 16 Desember 2013

Related News